Barusan saya ditelpon sepupu saya. Namanya Litha. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas IV. Dulu, saat saya masih SMA dan masa-masa awal kuliah, saya nebeng di rumahnya, jadilah dia dekat dengan saya. Kepada saya Litha bertanya tentang soal-soal PPKn yang menjadi tugas rumahnya kali ini (ah, untung bukan matematika. Saya tak pandai dalam angka. Mengutip Berger, I’m the woman without quantities ;) ).

Litha bertanya soal lembaga penegak hukum, soal mekanisme penegakan hukum, soal LBH, KUHP, dan lain sebagainya. Pertanyaan Litha tersebut membuat saya memikirkan dua hal. Pertama soal pendidikan SD sekarang yang tampaknya lebih rumit dari masa saya dulu. Kedua, soal perseteruan dua lembaga besar di negeri ini terkait penegakan hukum.

Read More »

Kecenderungan untuk memadukan atau mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Asing dalam lagu Indonesia, ternyata telah ada sejak jaman dahulu kala. Pagi ini, tanpa sengaja saya mendengarkan sebuah lagu yang diputar di stasiun televisi. Judulnya “Kopral Jono”, lagu khas perjuangan yang kerap saya dengar ketika tiba saat perayaan kemerdekaan di kampung saya dulu.

Baru pagi ini saya benar-benar mencermati lirik lagu tersebut, dan jidat saya langsung mengernyit ketika di bagian reff, saya mendengar lirik yang kurang lebih seperti ini: “ Wajahnya memang very good, seperti mas Robin Hood”. Aih, ternyata campur-campur dalam lirik lagu sudah dikenal dari dulu.

Barangkali itu menjelaskan mengapa lagu-lagu sekarang juga kerap mencampuradukkan bahasa. Dimulai dari Kuldesak ciptaan seniman (maaf) angkuh Ahmad Dhani, kemudian disusul dengan lagu-lagu yang lain dan terus saja menjamur hingga saat ini. Simak saja lirik lagu “Oh Baby” nya cinta Laura: “Katakan-katakan kau sungguh-sungguh, Hanya ada aku di dalam hatimu, Katakan-katakan kau cinta aku, Untuk selamanya kau jadi milikku, I don’t wanna loose you, yes I wanna hold you..”, atau “Klik”-nya Ussy : “Apa kau menantangku, Untuk menjadikanmu, Cita-cita hatiku, I will do it, I will do it..”. Pada lirik-lirik tersebut, jelas terlihat kombinasi antara kata-kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Read More »

Saya rindu hujan,

Saya kangen pada aroma tanah basah yang dibawa gerimis

Pada rintik yang turun satu-satu

Pada riak genangan air yang membasahi jalanan berdebu

Saya rindu hujan..

Rindu menatap dari balik jendela berteman teh dan tawa

Rindu bergelung dalam selimut lama-lama

Read More »

Berhubung tidak ada satupun acara TV yang layak tonton menurut saya, maka saya jadi lebih suka memperhatikan dan menonton iklan. Mencoba menganalisisnya dari perspektif keindahan maupun melihat pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan pengamatan saya, ada juga iklan-iklan yang indah, baik secara isi (substansi) maupun tampilan (visual). Iklan yang tak hanya mementingkan satu kata yaitu: Jual!.

Pertama, saya mencatat iklan Susu Bendera ( Frisian Flag). Saya selalu suka iklan-iklannya, baik versi reguler—“selalu ada senyum dari generasi ke generasi”—maupun versi puasa yang “saling menguatkan”. Iklan-iklan tersebut menarik karena pesan yang disampaikan tak melulu soal “ayo minum susu”, tapi juga sesuatu yang lain yang muncul karena aktivitas minum susu tersebut: kebersamaan, persaudaraan, tawa. Mirip dengan iklan Sariwangi yang “Mari Bicara” tapi eksekusinya menurut saya, jauh lebih bagus iklan Susu Bendera ini.

Read More »

Saya mulai menulis puisi sejak SD. Kegemaran saya menulis memang telah terlihat sejak saya bisa memegang pulpen/kapur/pensil dan sebangsa alat tulis lainnya. Hal ini terindikasi dari coret-coretan yang saya buat. Mulai dari menulis nama sendiri di tembok kamar orang tua saya, hingga menulis keinginan-keinginan terpendam saya di bagian bawah meja makan keluarga. Saat bersekolah, saya tidak merasa kegemaran saya tersebut terfasilitasi, kecuali saat pelajaran mengarang yang selalu diawali dengan kalimat: “Pada suatu hari..” itu.

Tapi di kelas V (lima), saya menemukan momen yang barangkali merupakan batu pijakan saya untuk lebih menekuni puisi. Waktu itu, saya nekat mengumpulkan puisi karya saya yang telah saya bingkai dan hias dengan cantik (menurut saya), untuk menggantikan tugas prakarya mengukir bambu yang tidak bisa saya lakukan. Beruntung, guru saya cukup baik dengan mengapresiasi karya saya. Jadilah saya tekun menulis puisi sejak saat itu.

Read More »