Pemilu Legislatif yang berlangsung beberapa bulan lalu, menyisakan satu perasaan untuk saya, yaitu saya merasa dikejar-kejar Pemilu. Dikejar-kejar untuk menggunakan hak pilih, seolah saya tidak berniat memilih saja (memang tidak terlalu berminat sih sebenarnya
).
Sewaktu saya melakukan transaksi melalui ATM sehari sebelum hari pencontrengan tersebut, bagian bawah dari print out yang saya terima bertuliskan “Sukseskan Pemilu 9 April 2009″. Lalu pesan di handphone saya seminggu sebelumya juga berisikan teks yang sama. Waktu itu, saya sempat heran, jangan-jangan aura apatisme terhadap pemilu legislatif tersebut begitu pekat, sehingga ratusan langkah preventif dilakukan untuk mencegahnya. Ya melalui ATM, melalui handphone, dan tentu saja baliho-baliho yang terpampang di jalan raya.
Pesan-pesan yang terselip di account Facebook saya juga menyuarakan hal yang sama. Dari himbauan untuk jangan menjadi golongan putih (golput), golput tidak mengatasi masalah hinggap golput itu haram.