Pemilu Legislatif yang berlangsung beberapa bulan lalu, menyisakan satu perasaan untuk saya, yaitu saya merasa dikejar-kejar Pemilu. Dikejar-kejar untuk menggunakan hak pilih, seolah saya tidak berniat memilih saja (memang tidak terlalu berminat sih sebenarnya ;) ).

Sewaktu saya melakukan transaksi melalui ATM sehari sebelum hari pencontrengan tersebut, bagian bawah dari print out yang saya terima bertuliskan “Sukseskan Pemilu 9 April 2009″. Lalu pesan di handphone saya seminggu sebelumya juga berisikan teks yang sama. Waktu itu, saya sempat heran, jangan-jangan aura apatisme terhadap pemilu legislatif tersebut begitu pekat, sehingga ratusan langkah preventif dilakukan untuk mencegahnya. Ya melalui ATM, melalui handphone, dan tentu saja baliho-baliho yang terpampang di jalan raya.

Pesan-pesan yang terselip di account Facebook saya juga menyuarakan hal yang sama. Dari himbauan untuk jangan menjadi golongan putih (golput), golput tidak mengatasi masalah hinggap golput itu haram.

Read More »

Saya punya seorang teman, panggil saja dia Ardi. Usianya terpaut cukup jauh dari saya, tapi kami lumayan sering berdiskusi dan berbagi cerita, dari obrolan berat soal politik hingga diskusi ringan mengenai keluarga.

Ardi belum lama pulang kembali ke Indonesia. Profesinya sebagai seorang dosen mengharuskan ia meninggalkan tanah air tercinta ini demi meraih gelar master–kemudian doktor–di Amerika. Praktis, selama 10 tahun, Ardi “hilang kontak” dengan Indonesia.

“Hilang kontak” tersebut tidak menjadi soal hingga dia bertemu dengan saya, yang merupakan produk “baru” negeri ini. Setiap kali kami berbincang, Ardi sering mengeluarkan kosakata jadul (jaman dulu) yang membuat saya tergelak, entah karena saya tidak tahu artinya, atau karena saya merasa kata tersebut sudah usang dan tidak lazim digunakan. Kata-kata usang tersebut antara lain mangsi (untuk menyebut pulpen tinta), atau mejeng untuk menyebut nampang. Masalah yang hampir sama muncul ketika saya mengeluarkan kosakata yang baru baginya, semisal lemot (lemah otak), TTM (teman tapi mesra) atau Tepe-Tepe (tebar pesona yang bisa juga diartikan sebagai nampang).

Persoalannya memang bukan di Ardi, tapi dari waktu yang hilang selama dia di Amerika, yang ternyata melahirkan begitu banyak kosakata baru.

Read More »

Akhir-akhir ini, saya merasa miris setiap kali menyalakan kotak televisi di kamar saya. Bukan, bukan karena televisinya, bukan juga karena kamar saya, tapi karena isi yang disampaikan oleh kotak ajaib tersebut. Terutama ketika mereka menyiarkan berita mengenai Jembatan Suramadu yang diresmikan beberapa waktu lalu.

Bagaimana saya tidak miris? Baru beberapa hari sejak jembatan tersebut mulai dioperasikan, mur, baut dan segala macam bentuk metal (besi) yang ada telah (hampir) habis diambil manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Apakah orang yang mengambil metal-metal tersebut tidak berpikir, bahwa tindakannya tersebut bisa membahayakan orang lain, dan tidak tanggung-tanggung, yang dibahayakan disini adalah nyawa manusia.

Barangkali, orang-orang yang mengambil metal tersebut merasa bahwa benda-benda kecil itu tak berguna. Maka mereka merasa boleh mengambil metal-metal tersebut. Apalagi harga besi-besi tua ternyata mahal jika dijual. Saya sudah mengkonfirmasi ini kepada pemulung yang sering mampir rumah saya, dia membenarkan bahwa besi itu memang mahal harganya. Tapi apakah harga yang mahal tersebut bisa menjadi pembenaran bagi sesorang untuk memunculkan peluang orang lain celaka?

Read More »

Sebagai penikmat film, jujur, saya kerap dikecewakan oleh film Indonesia. Seperti semalam, misalnya, saat saya menonton “Perempuan Berkalung Serbet”, maaf, maksud saya “Perempuan Berkalung Sorban”. Sebelumnya, saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton film ini. Tapi demi keperluan riset yang tengah digagas suami saya, maka saya menyempatkan diri untuk menonton.

Perempuan berkalung sorban berkisah mengenai seorang perempuan, anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri bernama Anissa (diperankan oleh Revalina S Temat). Annisa adalah seorang perempuan dengan pendirian kuat, berwajah cantik dan berotak cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren yang konservatif di mana buku modern dianggap menyimpang. Dalam pesantren ini juga, Annisa diajari bagaimana menjadi seorang perempuan muslim berdasarkan ajaran Islam konservatif–yang menurut Anissa–terlalu membela laki-laki, memposisikan perempuan sebagai sosok yang sangat lemah dan memperlakukan mereka dengan tidak setara (dikutip dari http://synopsis-movie.blogspot.com/2009/02/sinopsis-perempuan-berkalung-sorban.html dengan sedikit perubahan)

Kebetulan, saya belum membaca novel yang diadaptasi film ini, maka saya tak punya pengetahuan untuk membahas soal perbandingan isi dari novel dan film tersebut. Persoalan yang ingin saya diskusikan melalui tulisan ini adalah mengenai film Perempuan Berkalung Sorban dari kacamata penikmat film biasa seperti saya.

Read More »

Perhatian saya atas hak cipta, awalnya dipicu oleh hal-hal yang personal.  Sekitar tiga tahun yang lalu, saya mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan tentang hasil karya/kreasi saya.

Ceritanya begini, pada suatu ketika, saya menulis tentang perasaan dan pengalaman diri saya di blog saya (lebih jelas lihat disini). Di situ saya menulis tentang ketidaknyamanan saya, tentang rasa yang tengah saya rasakan, tentang sesuatu yang terlintas di benak saya waktu itu.

Lalu beberapa waktu kemudian, tanpa saya sengaja, saya mengetahui bahwa seseorang yang tidak terlalu saya kenal tapi menjadi teman di situs jejaring sosial, telah mengopi tulisan saya tersebut tanpa menyebutkan nama saya sebagai penulis asli. Geram, marah dan jengkel, saya menulis lagi tentang kekecewaan saya tersebut disini. Rupanya dia (si plagiat itu) sadar dan langsung menghapus tulisan saya di blog-nya.

Apakah saya puas? tentu saja. Tapi ada hal lain yang mengusik perhatian saya setelah itu, yaitu tentang siapa yang sebenarnya berhak atas hak cipta dan sejauh mana sebuah tindakan bisa dikatakan sebagai plagiarisme. Mengingat, internet adalah dunia yang begitu cair, yang kadang sudah berada di luar kendali kita untuk memantau dan/atau “menjaga” karya yang sudah kita tuangkan di situ.

Read More »