Monthly Archives: October 2008

Kemarin saya bertanya pada Joko Pinurbo, kenapa dia suka senja? Saya selalu menemukan kepingan senja di tiap puisinya. Dia bilang, mungkin kebetulan saja.

Lalu saya berjalan-jalan mengunjungi blog seorang teman, yang disitu menulis dengan gamblangnya bahwa dia mencintai senja, bahkan dia memberi nama blognya: cerita senja

Ya, senja, warna oranye yang selalu menyapa sesaat sebelum matahari tergelincir..

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, kenapa saya juga suka senja?

Read More »

Angin bertanya, apa itu rindu?
Seorang bijak menjawab:
Rasa kangen adalah kepedihan yang terasa manis, sesuatu yang timbul karena getaran di lubuk hati
Yang lain mengatakan, kangen itu gejala wajar yang ditimbulkan jika dua orang yang sedang jatuh cinta “dipaksa” berjauhan

Tapi menurutku, kangen itu seperti ini:
Menerka-nerka bayang wajahmu,
Yang terpantul di dinding waktu
Ah rasa rindu ini
Seperti tak pernah jenuh untuk dimiliki..

Ini:
Makin susah saja,
Berada jauh darimu
Rindu ini langsung mendekap
Bahkan ketika bayangmu masih jelas kulihat
Aku hanya bisa mencumbui waktu
Dengan sisa tawamu yang tertinggal di ujung anganku

Juga ini:
Kutatap pantulanku pada cermin di depanku,
Ada kamu..
Mengerling di satu sisi mata coklatku
Kulihat hari-hari berjejer pada kalender di kamarku
Ada janjimu..
Yang pernah kau ucapkan pada satu waktu
Aku merunduk
Mencoba merapikan kenangan yang berserakan karena sepiku
Masih ada kamu,
Menyiksaku tanpa ampun dalam dekapan rindu..

Jogja, Oktober 2008
-Hayu-

Kalau Ashadi Siregar membaca tulisan ini, maka dia akan tahu bahwa sayalah “plagiator”nya yang sejati. Judul di atas ini merupakan kata-kata dari Bang Hadi (begitu dia biasa disapa) yang dia lontarkan akhir minggu kemarin sewaktu saya menuju kelas Etika Komunikasi.

Selain dua kata tersebut, saya juga kerap mengutip Bang Hadi disana-sini. Baik berupa ide, pemikiran, maupun sekadar guyonan. Memang benar kata Randy Pausch. Cara termudah terlihat pintar adalah dengan membeo kata-kata orang pintar. Ya seperti yang saya lakukan selama ini dengan “petuah-petuah” Bang Hadi. ^_^

Saya jadi berpikir, untuk merumuskan sebuah pekerjaan baru, yaitu mentranskrip pemikiran orang-orang pintar dan menuangkannya dalam tulisan (karena asumsinya, orang pintar tersebut cukup sibuk, hehehehe). Ah, sepertinya menyenangkan.. (ada yang tertarik?)

Baiklah, kembali ke soal ornamen vs monumen..

Read More »

Kau dan aku seperti pasangan yang baru saja pacaran:

Masih kasmaran,

Terus berkirim pesan,

Mengumbar rayuan..

Seperti malam ini

Kau dan aku bermain peran:

Kau jadi pakne,

Aku jadi bune,

Kita berkhayal:

Dunia tak punya satire..

Cinta membuat kita manja

Cinta membuat kita tidak bisa tidak berkata-kata..

(Djogja, pertengahan oktober 2008)

-Hayu-

Mulanya, media diciptakan untuk menjawab kebutuhan manusia akan informasi. Memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk mengetahui pengalaman-pengalaman yang terjadi di luar dirinya (Kovach dan Rosentiel, 2003). Hal ini berangkat dari keinginaan manusia untuk tahu semua hal, untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, tapi (tetap) memiliki keterbatasan untuk melakukan itu.

Manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di belahan dunia lainnya, kalau saja media tidak dicipta untuk “memotret” itu dan menyampaikannya ke khalayak.

Tapi itu duluuu (saya tulis dengan nada seperti yang ada di iklan)..

Read More »