Monthly Archives: November 2008

Dalam diskusi fotografi bersama Seno Gumira Ajidharma semalam, saya memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang sedikit banyak menambah wawasan saya atas fotografi. Diskusi bertajuk ” 9 Wali dan Siti Jenar” tersebut mengambil tempat di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Kasihan, Bantul.

Salah satu lontaran yang menarik minat saya adalah ketika Seno menyebutkan istilah fotografi untuk fotografi. Semangat besar Seno dalam diskusi sekaligus pameran tersebut memang untuk “mengurangi” beban seni yang harus ditanggung oleh sebuah foto. Selain itu, Seno juga mencoba menggiring ke arah pemikiran untuk tidak asal ngomong. Misal dalam kasus Wali Songo dan Siti Jenar, Seno menunjukkan kegerahannya atas orang-orang yang berkomentar tanpa mengetahui konteks dan sejarah. Bagi Seno, dalam kasus-kasus seperti itu, minimal kita harus membaca dulu, baru berkomentar.

Respon-respon yang kemudian berdatangan dari para peserta diskusi beraneka ragam. Ada yang membahas kesahihan foto sebagai dokumentasi, ada juga yang menyebutkan bahwa foto-foto Seno yang dipamerkan jutsru terlalu nyeni bahkan tidak bisa berdiri sendiri sebagai sebuah foto (lebih bisa dinikmati dengan teks). Kebetulan foto-foto tersebut adalah foto-foto yang pernah dimuat di Intisari.

Read More »

Semakin mendekati senja, semakin kita sering bertengkar
Tapi seringkali, kemarahan itu lumer tanpa kata
Tanpa perlu banyak usaha
Kita hanya perlu menghela nafas sebentar
Lalu tersenyum dan bertukar pemikiran

Mungkin semakin kesana,
Cinta makin tak butuh terlalu banyak kata
Mungkin cinta, punya bahasanya sendiri
Bahasa yang tak terlalu rumit untuk dimengerti:
Bahasa senja..

(Djogjakarta, 23-24 November 2008)

Selo Soemardjan memaknai perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sedangkan Kingsley Davis mengemukakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat. Perubahan pada dasarnya memiliki makna sebagai sesuatu yang menunjukkan perbedaan antara situasi sebelum dan sesudahnya. Perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam masyarakat antara lain perubahan norma-norma sosial, nilai sosial, interaksi sosial, pola-pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan masyarakat, susunan kekuasaan dan wewenang.

Terkait dengan perubahan nilai sosial, kecenderungan yang ada di masyarakat kita saat ini adalah penghargaan berlebih terhadap pendidikan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Pada zaman dulu, manusia dinilai dari kepemilikan tanah, keturunan atau kekayaan yang dia miliki. Sementara saat ini, manusia ditempatkan dalam kotak-kotak ijazah, dimana dia dilihat sebagai siswa sekolah A atau mahasiswa universitas B, bukan dia sebagai seseorang dengan kualitas personalnya yang utuh. Pendidikan seolah-olah menjadi tangga untuk menuju status sosial yang lebih tinggi.

Sayangnya, pendidikan bermutu sekarang ini diidentikkan dengan pendidikan yang mahal. Bersekolah di tempat mahal sekaligus menjadi legitimasi kesuksesan dan masa depan seseorang. Hal tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, apa yang sebenarnya tengah dikejar oleh masyarakat kita? mutu, prestige, atau justru keuntungan besar-besaran? Disadari atau tidak, ada nilai yang bergeser dalam masyarakat. Ketika pendidikan mulai dimaknai sebagai suatu hal yang money oriented ketika itulah pendidikan telah kehilangan arti yang sebenarnya.

Perubahan sosial, tidak bisa dilepaskan dari komunikasi sosial. Komunikasi sosial itu sendiri bisa dilihat dalam berbagai konteks. Salah satunya adalah konteks komunikasi kelompok. Dalam konteks inilah, perspektif mengenai pendidikan berkembang. Komunikasi kelompok yang penuh dengan social contact, melahirkan wacana seputar pendidikan yang ujung-ujungnya menggeser arti dari pendidikan itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Alvin Betrand, awal dari proses perubahan adalah komunikasi, yaitu penyampaian ide, gagasan, nilai, keyakinan, dan sebagainya, dari satu pihak ke pihak lain sehingga dicapai pemahaman bersama. Selain itu, perubahan perspektif masyarakat mengenai pendidikan yang bermutu, menurut David Mc Clelland, dipengaruhi juga oleh adanya need of achievement atau hasrat meraih prestasi yang melanda masyarakat.

Read More »

Mendung yang pertama kali menyapa saat kususuri lagi tanah di Jalan Kembang Merak itu. Sebuah rumah, yang dulu banyak merekam jejak langkahku. Sunyi, sepi, tak banyak yang berlalu lalang. Ruangan 3 x 3 itu juga sama saja. Tak ada satu orang pun di dalamnya. Lalu gerimis datang. Tepat saat kamu baru saja selesai menuntaskan doa.

Kau dan aku mengambil tempat di bawah pohon. Meski hujan, kita tak beranjak. Terlalu asing untuk bergerak. Ingin mengambil sedikit tempat di ruang tamu tapi merasa tak enak. Lalu kita biarkan saja rintik-rintik kecil itu membasahi tubuh kita. Toh gelak canda dan tawa kita dengan seorang teman terasa hangat di badan.

Dalam rinai hujan, kau memintaku mengambil mantel. Kamu dengan nasi bungkus di tanganmu memang tampak kesulitan. Menahan rintik hujan agar tak membasahi nasimu. Kubentangkan mantel kumuh itu di atas kepala kita. Teman kita tertawa. Dia dengan jaket anti hujannya tampak baik-baik saja.

Lalu kita saling berebut tahu, juga teri yang jadi laukmu siang itu. Ah, ternyata enak juga, menikmati sebungkus nasi dan segelas kopi kental, sambil berlindung dari hujan. Mungkin karena nasi itu. Mungkin karena mantel yang kita pegang ujungnya satu-satu. Atau mungkin karena kita bersama, melewatkan waktu sebelum senja. Meski hanya dengan sebungkus nasi lauk teri dan segelas kopi, untuk berdua.

Saya memang bukan orang yang sudah menonton semua film, bukan juga orang yang sudah membaca semua buku. Jadi, pemikiran yang saya lontarkan disini, bisa jadi tidak adil. Mungkin bahkan terlalu personal.

Di pertengahan masa kuliah, saya pernah membaca sebuah buku tentang film-film yang diadaptasi dari novel atau karya sastra. Saya tidak bisa mengingat judul persisnya, yang saya ingat, di dalam buku tersebut, Garin Nugroho menyebutkan bahwa sejarah adaptasi merupakan sejarah awal pembuatan film, karena pada dasarnya, film memang selalu berusaha mengadaptasi kehidupan. Jadi, cerita yang diangkat dari sebuah novel atau buku adalah hal yang wajar.

Read More »