Monthly Archives: December 2008

Musim semi baru saja datang lagi

Setelah musim dingin yang membekukan dan tak henti-henti

Ah, semak-semak yang hijau itu menarikku

Mencoba mendekatkanku

Aku nyaris saja tak kuasa

Tapi entah kenapa seperti ada yang menahanku

Untuk tak segera beranjak kesana

Mungkin karena aku belum yakin

Barangkali karena kesadaranku belum pulih benar

Tapi aku tak ingin musim semi ini pergi

Sungguh aku tak ingin melewatkannya

Maka bisakah kau tunggu aku

Sebentar saja

Sampai matahari itu bersinar sempurna

Sampai musim panas datang menghangatkan jiwa

Sampai aku yakin,

Aku benar-benar jatuh cinta..

(Yogyakarta, 23 Desember 2008)

Untuk sahabatku, yang mencoba untuk selalu apa-adanya..

Semoga suka

^_^

Sabtu lalu (13/12) saya mengikuti roundtable discussion Jurnalisme dan Etika Publik yang diselenggarakan oleh LP3Y dan Tifa Foundation di Jogja Plaza Hotel (dulu Radison). Dalam diskusi tersebut, saya kurang menyepakati pendapat yang mengemukakan bahwa dalam Jurnalisme, di Indonesia khususnya, persoalan teknis sudah selesai. Meskipun mungkin pendapat tersebut dilontarkan dalam konteks bahwa ada persoalan yang lebih krusial selain teknis, saya tetap tidak bisa menyingkirkan kegelisahan saya bahwa masalah teknis untuk Jurnalisme di Indonesia, masih sangat kurang (untuk tidak menyebutnya parah).

Beberapa postingan saya sebelumnya jelas mengindikasikan betapa persoalan teknis masih menghantui kerja jurnalisme di Indonesia. Misalnya mengenai teknik mewawancara narasumber yang kebetulan anak-anak, teknik menyampaikan lokasi peristiwa yang asal-asalan, dan lain sebagainya.

Read More »

Seni yang Tidak Seniningan.

Judul ini berawal dari kenangan masa lalu saya dengan kakak laki-laki saya. Waktu itu dia sering memlesetkan, kata seniman menjadi seniningan. Seniningan adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang bisa juga disebut dengan ceniningan. Kata ini kurang lebih berarti aeng, nyleneh, atau unik.

Namun, seniningan juga bisa merujuk pada sesuatu yang ngawur, yang waton kalau dalam bahasa Jawa. Menurut kakak saya waktu itu, seniman itu tidak seniningan. Seniman justru mengikuti alur dan patokan yang disebut dengan seni itu sendiri.

Sayangnya, seni yang ada sekarang ini, meski saya bukan ahli seni, membuat saya sempat berpikir bahwa isinya terlalu seniningan. Misalnya lirik lagu yang isinya pisuhan (umpatan) semua, yang justru dianggap kreatif dan melupakan fakta bahwa anak-anak Indonesia kini menjadi konsumen lagu-lagu dewasa (karena mereka tidak punya lagu sendiri).

Read More »

Puisi ini saya buat atas curhatan seoran teman kepada saya. Katanya, dia sedang kangen pada pria-nya yang ada nun jauh disana. Semoga kamu suka Sar, dan semoga ini bisa sedikit mengurangi beban kehilanganmu kemarin (turut berduka cita, ya..)

“Untuk dia yang ada disana”

Puisi ini seperti rekan

Yang menemaniku berkawan dengan bosan

Kutulis dan kucoba sampaikan padanya

Pada seseorang yang ada jauh disana

Waktu kini terasa kian menua

Tapi kau tahu aku masih belajar setia

Maka ketika kau menoleh

Kupastikan aku masih berdiri disana

Ditempat pertama kita jatuh cinta..

Sewaktu kecil, saya mempunyai masalah dengan peta. Saya susah membaca letak suatu tempat dan menentukan arah dimana tempat itu berada. Saya selalu ngeles bahwa ketidakmampuan saya itu karena bakat saya memang di IPA (meskipun pada akhirnya dengan kesadaran penuh saya banting setir ke IPS ketika SMA).

Lalu ketika besar, saya memiliki penjelasan yang lebih ilmiah. Terutama setelah membaca “Why Men don’t listen and Woman can’t read a map“. Saya makin percaya bahwa dalam beberapa kasus, perempuan memang susah menentukan letak dan arah.

Namun, saya tidak punya masalah dengan menghafal nama-nama tempat. Saya tahu Balikpapan itu jelas bukan di Kalimantan Selatan. Saya juga tahu bahwa Pekalongan itu tidak di Sulawesi. Saya pikir pengetahuan-pengetahuan semacam itu tentulah pengetahuan umum yang semua orang tahu.

Tapi ternyata saya salah. Pengalaman saya ketika menonton acara televisi dengan beberapa teman (salah satunya adalah si Balada PNS) kemarin sore, meruntuhkan segala asumsi saya.

Read More »