Setahun yang lalu, ketika saya tengah melakukan penelitian mengenai media literacy di sebuah desa di ujung tenggara Kota Wonosari, salah seorang informan saya menunjukkan ketertarikannya yang luar biasa atas sinetron Indosiar. Ya, sinetron yang menurut saya wagu dan teknik efek-nya tidak lebih bagus dari King Kong yang dibuat pada tahun 1930-an. Kepada saya, informan saya itu bercerita betapa dia tergila-gila dengan sinetron tersebut dan tak pernah melewatkan satu pun episodenya. Saya, yang waktu itu berperan sebagai observer, hanya bisa tersenyum simpul dan terus bertanya “kenapa?”, “kenapa?”, dan “kenapa?”.
Belum habis heran saya, seorang Ibu belum lama ini berkata pada saya bahwa dia tengah menikmati salah satu sinetron yang tayang di Indosiar. Menurutnya, tayangan tersebut mudah dicerna dan tidak perlu berpikir keras untuk mengetahui jalan ceritanya.