Sabtu lalu (13/12) saya mengikuti roundtable discussion Jurnalisme dan Etika Publik yang diselenggarakan oleh LP3Y dan Tifa Foundation di Jogja Plaza Hotel (dulu Radison). Dalam diskusi tersebut, saya kurang menyepakati pendapat yang mengemukakan bahwa dalam Jurnalisme, di Indonesia khususnya, persoalan teknis sudah selesai. Meskipun mungkin pendapat tersebut dilontarkan dalam konteks bahwa ada persoalan yang lebih krusial selain teknis, saya tetap tidak bisa menyingkirkan kegelisahan saya bahwa masalah teknis untuk Jurnalisme di Indonesia, masih sangat kurang (untuk tidak menyebutnya parah).
Beberapa postingan saya sebelumnya jelas mengindikasikan betapa persoalan teknis masih menghantui kerja jurnalisme di Indonesia. Misalnya mengenai teknik mewawancara narasumber yang kebetulan anak-anak, teknik menyampaikan lokasi peristiwa yang asal-asalan, dan lain sebagainya.