Monthly Archives: January 2009

Harum tubuhmu sayang,

Terselip di setiap ruang pada bayu

Di sepanjang jalan yang dilalui waktu

Menusuk-nusuk simpul syaraf kesadaranku

Memunculkan rasa yang disebut orang: RINDU..

Jogja, 26th of January 2009

-Hayu-

Ditulis sembari mendengarkan Senandung Rindu by Tohpati dan Sutha AFI

Sore ini aku tak jadi pulang sendiri

Senja menawarkan dirinya untuk mengiringi

“Biarkan aku ada di sebelah kananmu”, begitu katanya padaku

Awalnya aku heran

Tak biasanya senja menemuiku saat aku sendirian

Lalu kami bercakap-cakap

Sebelum raksasa abu-abu menyeretnya ke barat

Kubilang padanya: “Tumben kau mau menemuiku saat aku sendirian saja?”

Dia mengangkat kedua alisnya dan balik bertanya:

“Siapa bilang kamu sendirian?”

Aku semakin heran

Melihat ekspresiku, senja tertawa tertahan

“Hayu..hayu..kamu tidak sendirian sayangku, sejak hari itu, aku tidak pernah melihatmu sendirian, selalu ada dia, bahkan, sebenarnya tak ada lagi kamu, melainkan kalian, ya, kalian..”

“Maksudmu?” aku bertanya lagi

Senja menguap pelan, lalu mendekat ke arahku

Lebih dekat dari sebelumnya

Dia berkata sambil menggenggam kedua tanganku

“Tidak sadarkah kamu? Dia selalu ada di hatimu. Kau bawa kemana-mana. Tak peduli kali ini kau sedang mengendarai motor sendiri. Dia ada disini. Jadi aku tidak sedang menjilat ludahku karena menemanimu sore ini.”

Aku termangu

Yang tadinya terasa jauh kini seperti ada tepat di depanku

Pelan tapi pasti, senja melonggarkan genggamannya

Raksasa abu-abu semakin kuat menariknya

Aku hanya bisa memberinya pandangan terima kasih

Yang sedikit kabur karena genangan air mata

Ah ternyata sore ini

Aku tak jadi pulang sendiri..

Jogja-Wonosari

16th of January 2009

-Hayu-

Pagi ini saya menonton infotainment. Sangat tidak biasa. Karena biasanya saya akan lebih memilih untuk mendengarkan musik atau menyibukkan diri di dapur. Niatnya memang menghibur diri. Meski tidak sampai mati (seperti yang dibilang Neil Postman).

Tapi seperti yang sudah saya duga, saya sama sekali tidak terhibur. Saya justru amat sangat kecewa.

Jadi begini ceritanya.

Pagi ini, infotainment menyiarkan beberapa tayangan gosip. Jujur saja, saya melihatnya sambil lalu. Kadang memperhatikan, kadang tidak.

Salah satu informasi yang disampaikan pagi ini adalah tentang seorang artis, bernama Chris Salam, yang tengah bermasalah dengan seseorang perihal kerjasama bisnis dan penipuan. Ya, semacam itulah. Saya juga tidak terlalu memperhatikan.

Read More »

Karena kita begitu dekat,

Sekaligus begitu jauh..

Maka ijinkanlah aku memelukmu lewat kata

Menyampaikan isyarat yang sejak tadi mengambang di udara

Mungkin tentang cinta

Mungkin juga tentang kita

Mungkin kita = cinta

Mungkin saja..

-Jogja, 12 Januari 2009-

Hayu

Sisa gerimis masih menempel di jendela ketika aku duduk dan memutar-mutar jariku di ujung gelas. Aku dan teh manis. Dua kombinasi yang selalu ada di setiap pagi. Dengan atau tanpa kamu. Samar-samar aku ingat kamu pernah bilang:

“Sayang, teh itu bagus buat kesehatan, tapi jangan terlalu banyak. Imbangi dengan air putih”.

Kamu, kombinasi lain yang kini buram dari penglihatanku.

Kuseruput tehku yang mulai dingin. Malas sekali beraktivitas di pagi seusai gerimis seperti ini. Rasanya ingin menggelung diri di kasur. Membenamkan kepala di dalam bantal, yang dulu pernah kau tiduri juga. Aku tersedak. Kenangan atas saat-saat itu kembali menggelegak.

“Kau tak boleh egois. Aku sedang banyak urusan. Di kantor banyak masalah. Di rumah juga banyak masalah. Tolong jangan bebani aku”. Begitu kau sempat berujar.

Suara ribut dari apartemen sebelah membuatku tersadar. Mereka memang selalu saja bertengkar. Kepalaku sedikit pening. Mungkin karena kenanganmu, mungkin karena aku tak berhenti membuat lingkaran pada gelas di depanku. Aku seperti mendengar kau berkata:

“Kau ini seperti anak kecil saja, tak henti memutar-mutar jarimu di ujung gelas”.

“Biarin!!”, aku mendengar diriku sendiri bicara.

“Apa pedulimu?”, tantangku.

Kamu melengos, lalu beranjak pergi. Secepat bayangan yang berlari.

Read More »