Sisa gerimis masih menempel di jendela ketika aku duduk dan memutar-mutar jariku di ujung gelas. Aku dan teh manis. Dua kombinasi yang selalu ada di setiap pagi. Dengan atau tanpa kamu. Samar-samar aku ingat kamu pernah bilang:
“Sayang, teh itu bagus buat kesehatan, tapi jangan terlalu banyak. Imbangi dengan air putih”.
Kamu, kombinasi lain yang kini buram dari penglihatanku.
Kuseruput tehku yang mulai dingin. Malas sekali beraktivitas di pagi seusai gerimis seperti ini. Rasanya ingin menggelung diri di kasur. Membenamkan kepala di dalam bantal, yang dulu pernah kau tiduri juga. Aku tersedak. Kenangan atas saat-saat itu kembali menggelegak.
“Kau tak boleh egois. Aku sedang banyak urusan. Di kantor banyak masalah. Di rumah juga banyak masalah. Tolong jangan bebani aku”. Begitu kau sempat berujar.
Suara ribut dari apartemen sebelah membuatku tersadar. Mereka memang selalu saja bertengkar. Kepalaku sedikit pening. Mungkin karena kenanganmu, mungkin karena aku tak berhenti membuat lingkaran pada gelas di depanku. Aku seperti mendengar kau berkata:
“Kau ini seperti anak kecil saja, tak henti memutar-mutar jarimu di ujung gelas”.
“Biarin!!”, aku mendengar diriku sendiri bicara.
“Apa pedulimu?”, tantangku.
Kamu melengos, lalu beranjak pergi. Secepat bayangan yang berlari.
Suara rice cooker yang menandakan nasiku telah matang membuatku terpaksa bangkit. Kuaduk isinya, dan kubiarkan sebentar. Kembali aku teringat pada menu sarapan kesukaanmu. Telor setengah matang, yang bagiku takkan pernah mampu membangkitkan selera makan.
“Kamu harus makan”, ujarmu. “Tapi dengan lauk telor yang kuning telornya lumer ketika digigit”, katamu lagi.
Aku bergidik. Kau tahu aku paling tak suka telor. Apalagi yang setengah matang. Kau tertawa melihatku wajah jijikku. Lalu bergerak untuk memeluk dan mengacak rambutku. Sayang sekali kelihatannya.
Setengah sadar, aku berteriak marah:
“Benarkah? Benarkah kau sayang padaku?”
Suara ribut tetangga sebelah teredam sebentar, tapi tak lama kemudian mereka kembali bertengkar. Tinggal aku saja yang tak terduduk lesu. Kenapa ingatan tentang kamu begitu menyiksaku?
Kubuat lagi secangkir teh. Dalam suasana seperti ini aku membutuhkan lebih banyak penenang. Dan buatku, tak ada yang lebih baik dari segelas teh manis. Sempat aku berpikir untuk mengurangi kadar gulanya. Kau pernah menyarankanku untuk tak mengkonsumsi terlalu banyak gula. Tapi persetan. Kau toh tak sedang melihatku. Lagipula mau apa kamu kalau aku memang mencandu?
Sial. Gula di kotak biru ini hampir habis. Mau tak mau aku harus membeli ke supermarket. Tapi aku benar-benar malas keluar dari ruangan ini. Jadi kukurangi saja jatah gula untuk teh manisku pagi ini sambil berteriak pada sosok yang tak berbentuk:
“Ini bukan karena aku menuruti saranmu!”
Sekilas kudengar kau tertawa pelan.
Tak kuhiraukan. Aku kembali duduk di sofa depan jendela. Menatap matahari yang telah hampir bersinar sempurna. Kutatap gelas di hadapanku lama-lama. Lalu kuputar-putarkan jariku seperti biasa. Sekali.. dua kali.. tiga kali.. kemudian teh manis itu kuseruput pelan. Kuhirup semua aromanya.
Aku tahu kamu tak ada hubungannya dengan teh manis. Juga dengan kebiasaanku memutar-mutar jari di ujung gelas tehku. Aku sudah suka teh, jauh sejak sebelum bertemu kamu.
Tapi teh selalu membuatku ingat kamu. Kamu yang hitam. Kamu yang manis dan pahit sekaligus. Kamu yang menenangkan. Kamu yang memberi semangat. Kamu yang hangat. Kamu yang menemaniku mengawali hari. Mungkin bukan hanya teh. Setiap hal selalu saja bisa kukaitkan denganmu.
Kuseruput lagi teh manisku. Kali ini dengan lebih cepat.
Harus kuakui aku menyesal bertengkar denganmu semalam. Tapi kau tahu, kita sama-sama kelelahan. Kita berdua punya banyak beban. Sayangnya, kita juga tengah egois untuk saling bicara dan mendengarkan. Imbasnya jelas. Kamu tersinggung. Aku tersinggung. Aku terluka. Kita terluka. Lalu kita paksakan untuk berhenti berbicara.
Ah, memangnya itu membantu? Tidak! Aku tetap tidur dengan tidak tenang. Makan sambil menangis hingga mie gorengku terasa lebih asin dari yang seharusnya.
Aku tahu aku bisa menghubungimu. Tapi egoku bilang, bukannya aku yang selalu demikian? Aku yang mengalah. Aku yang selalu meminta maaf lebih dulu.
Aku bisa juga mengabaikanmu. Tapi masalahnya aku tak bisa mengabaikan, sedikit saja, segala hal yang ada hubungannya padamu.
Aku tidak bisa ngambek dengan total. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menghubungimu. Aku takut kau kenapa-kenapa. Aku paling tidak bisa tidak tahu keadaanmu. Aku paling tidak bisa memaafkan diriku jika sampai terjadi hal-hal yang buruk padamu. Aku terlalu mencandumu. Sama seperti teh manis ini.
“Tok..tok..tok”, aku mendengar pintu apartemenku diketuk.
Aku segera beranjak. Dalam hati aku berharap itu kamu. Kuraih gagang pintu, dan kubuka. Teh manis itu masih menungguku di ujung meja.Ternyata tetangga sebelah.
“Sorry May, aku terpaksa mengganggumu. Kamu punya teh manis?”, tanyanya.
Aku tak menjawab. Teh manisku terasa sedikit pahit pagi ini.
Jogjakarta, 6th of January 2009
Hayu
(sudah lama tidak menulis cerpen ^_^)
13 Comments
Teh Manis akan lebih terasa menyegarkan bila dicemplungi balok balok es yang bening keputihan.
Oh, Kucinta Es Teh begitu dalam.
@abdee: wah dadi ngelak aku mas.. ;D
ending yang keren.. suka dengan detail ya?
ah, baca blognya mbak hayu selalu membuatku bersyukur, serasa membaca buku tanpa perlu membelinya. (pinjem juga bisa ya, padahal? haha) ^^
@restagunawan: terima kasih ;D
@tya: wah, berarti kowe kudu mbayar aku,hehehe
aku suka teh blackcurrant…
@wib: cobain juga blueberry tea di Parsley, enak juga lho mas.. hehehe
keren ki cerpene…padahal awalnya kukira adalah curhat pribadi…pie nek bbrapa cerpenmu di kmplkan trus di terbitkan…kalo gak da percetakan yg mau…bikin secara independen saja….
@budakdigital: hahahahah, amin deh, doain aja ada yg mau, hihihihi
yap..
aku lebih suka teh dari pada kopi
@art87: terima kasih sudah mampir..
cerpennya … agak mengarah ke feature
Susianto: wah, mungkin pengalaman jurnalistik saya terbawa serta, hehehe, maklum, baru mulai nulis cerpen lagi setelah sekian lama..
, omong-omong salam kenal..