Monthly Archives: May 2009

Sebagai penikmat film, jujur, saya kerap dikecewakan oleh film Indonesia. Seperti semalam, misalnya, saat saya menonton “Perempuan Berkalung Serbet”, maaf, maksud saya “Perempuan Berkalung Sorban”. Sebelumnya, saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton film ini. Tapi demi keperluan riset yang tengah digagas suami saya, maka saya menyempatkan diri untuk menonton.

Perempuan berkalung sorban berkisah mengenai seorang perempuan, anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri bernama Anissa (diperankan oleh Revalina S Temat). Annisa adalah seorang perempuan dengan pendirian kuat, berwajah cantik dan berotak cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren yang konservatif di mana buku modern dianggap menyimpang. Dalam pesantren ini juga, Annisa diajari bagaimana menjadi seorang perempuan muslim berdasarkan ajaran Islam konservatif–yang menurut Anissa–terlalu membela laki-laki, memposisikan perempuan sebagai sosok yang sangat lemah dan memperlakukan mereka dengan tidak setara (dikutip dari http://synopsis-movie.blogspot.com/2009/02/sinopsis-perempuan-berkalung-sorban.html dengan sedikit perubahan)

Kebetulan, saya belum membaca novel yang diadaptasi film ini, maka saya tak punya pengetahuan untuk membahas soal perbandingan isi dari novel dan film tersebut. Persoalan yang ingin saya diskusikan melalui tulisan ini adalah mengenai film Perempuan Berkalung Sorban dari kacamata penikmat film biasa seperti saya.

Read More »

Perhatian saya atas hak cipta, awalnya dipicu oleh hal-hal yang personal.  Sekitar tiga tahun yang lalu, saya mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan tentang hasil karya/kreasi saya.

Ceritanya begini, pada suatu ketika, saya menulis tentang perasaan dan pengalaman diri saya di blog saya (lebih jelas lihat disini). Di situ saya menulis tentang ketidaknyamanan saya, tentang rasa yang tengah saya rasakan, tentang sesuatu yang terlintas di benak saya waktu itu.

Lalu beberapa waktu kemudian, tanpa saya sengaja, saya mengetahui bahwa seseorang yang tidak terlalu saya kenal tapi menjadi teman di situs jejaring sosial, telah mengopi tulisan saya tersebut tanpa menyebutkan nama saya sebagai penulis asli. Geram, marah dan jengkel, saya menulis lagi tentang kekecewaan saya tersebut disini. Rupanya dia (si plagiat itu) sadar dan langsung menghapus tulisan saya di blog-nya.

Apakah saya puas? tentu saja. Tapi ada hal lain yang mengusik perhatian saya setelah itu, yaitu tentang siapa yang sebenarnya berhak atas hak cipta dan sejauh mana sebuah tindakan bisa dikatakan sebagai plagiarisme. Mengingat, internet adalah dunia yang begitu cair, yang kadang sudah berada di luar kendali kita untuk memantau dan/atau “menjaga” karya yang sudah kita tuangkan di situ.

Read More »