Monthly Archives: June 2009

Saya punya seorang teman, panggil saja dia Ardi. Usianya terpaut cukup jauh dari saya, tapi kami lumayan sering berdiskusi dan berbagi cerita, dari obrolan berat soal politik hingga diskusi ringan mengenai keluarga.

Ardi belum lama pulang kembali ke Indonesia. Profesinya sebagai seorang dosen mengharuskan ia meninggalkan tanah air tercinta ini demi meraih gelar master–kemudian doktor–di Amerika. Praktis, selama 10 tahun, Ardi “hilang kontak” dengan Indonesia.

“Hilang kontak” tersebut tidak menjadi soal hingga dia bertemu dengan saya, yang merupakan produk “baru” negeri ini. Setiap kali kami berbincang, Ardi sering mengeluarkan kosakata jadul (jaman dulu) yang membuat saya tergelak, entah karena saya tidak tahu artinya, atau karena saya merasa kata tersebut sudah usang dan tidak lazim digunakan. Kata-kata usang tersebut antara lain mangsi (untuk menyebut pulpen tinta), atau mejeng untuk menyebut nampang. Masalah yang hampir sama muncul ketika saya mengeluarkan kosakata yang baru baginya, semisal lemot (lemah otak), TTM (teman tapi mesra) atau Tepe-Tepe (tebar pesona yang bisa juga diartikan sebagai nampang).

Persoalannya memang bukan di Ardi, tapi dari waktu yang hilang selama dia di Amerika, yang ternyata melahirkan begitu banyak kosakata baru.

Read More »

Akhir-akhir ini, saya merasa miris setiap kali menyalakan kotak televisi di kamar saya. Bukan, bukan karena televisinya, bukan juga karena kamar saya, tapi karena isi yang disampaikan oleh kotak ajaib tersebut. Terutama ketika mereka menyiarkan berita mengenai Jembatan Suramadu yang diresmikan beberapa waktu lalu.

Bagaimana saya tidak miris? Baru beberapa hari sejak jembatan tersebut mulai dioperasikan, mur, baut dan segala macam bentuk metal (besi) yang ada telah (hampir) habis diambil manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Apakah orang yang mengambil metal-metal tersebut tidak berpikir, bahwa tindakannya tersebut bisa membahayakan orang lain, dan tidak tanggung-tanggung, yang dibahayakan disini adalah nyawa manusia.

Barangkali, orang-orang yang mengambil metal tersebut merasa bahwa benda-benda kecil itu tak berguna. Maka mereka merasa boleh mengambil metal-metal tersebut. Apalagi harga besi-besi tua ternyata mahal jika dijual. Saya sudah mengkonfirmasi ini kepada pemulung yang sering mampir rumah saya, dia membenarkan bahwa besi itu memang mahal harganya. Tapi apakah harga yang mahal tersebut bisa menjadi pembenaran bagi sesorang untuk memunculkan peluang orang lain celaka?

Read More »