Category Archives: Belajar Bermedia

Berhubung tidak ada satupun acara TV yang layak tonton menurut saya, maka saya jadi lebih suka memperhatikan dan menonton iklan. Mencoba menganalisisnya dari perspektif keindahan maupun melihat pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan pengamatan saya, ada juga iklan-iklan yang indah, baik secara isi (substansi) maupun tampilan (visual). Iklan yang tak hanya mementingkan satu kata yaitu: Jual!.

Pertama, saya mencatat iklan Susu Bendera ( Frisian Flag). Saya selalu suka iklan-iklannya, baik versi reguler—“selalu ada senyum dari generasi ke generasi”—maupun versi puasa yang “saling menguatkan”. Iklan-iklan tersebut menarik karena pesan yang disampaikan tak melulu soal “ayo minum susu”, tapi juga sesuatu yang lain yang muncul karena aktivitas minum susu tersebut: kebersamaan, persaudaraan, tawa. Mirip dengan iklan Sariwangi yang “Mari Bicara” tapi eksekusinya menurut saya, jauh lebih bagus iklan Susu Bendera ini.

Read More »

Sebagai penikmat film, jujur, saya kerap dikecewakan oleh film Indonesia. Seperti semalam, misalnya, saat saya menonton “Perempuan Berkalung Serbet”, maaf, maksud saya “Perempuan Berkalung Sorban”. Sebelumnya, saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton film ini. Tapi demi keperluan riset yang tengah digagas suami saya, maka saya menyempatkan diri untuk menonton.

Perempuan berkalung sorban berkisah mengenai seorang perempuan, anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri bernama Anissa (diperankan oleh Revalina S Temat). Annisa adalah seorang perempuan dengan pendirian kuat, berwajah cantik dan berotak cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren yang konservatif di mana buku modern dianggap menyimpang. Dalam pesantren ini juga, Annisa diajari bagaimana menjadi seorang perempuan muslim berdasarkan ajaran Islam konservatif–yang menurut Anissa–terlalu membela laki-laki, memposisikan perempuan sebagai sosok yang sangat lemah dan memperlakukan mereka dengan tidak setara (dikutip dari http://synopsis-movie.blogspot.com/2009/02/sinopsis-perempuan-berkalung-sorban.html dengan sedikit perubahan)

Kebetulan, saya belum membaca novel yang diadaptasi film ini, maka saya tak punya pengetahuan untuk membahas soal perbandingan isi dari novel dan film tersebut. Persoalan yang ingin saya diskusikan melalui tulisan ini adalah mengenai film Perempuan Berkalung Sorban dari kacamata penikmat film biasa seperti saya.

Read More »

Pagi ini saya menonton infotainment. Sangat tidak biasa. Karena biasanya saya akan lebih memilih untuk mendengarkan musik atau menyibukkan diri di dapur. Niatnya memang menghibur diri. Meski tidak sampai mati (seperti yang dibilang Neil Postman).

Tapi seperti yang sudah saya duga, saya sama sekali tidak terhibur. Saya justru amat sangat kecewa.

Jadi begini ceritanya.

Pagi ini, infotainment menyiarkan beberapa tayangan gosip. Jujur saja, saya melihatnya sambil lalu. Kadang memperhatikan, kadang tidak.

Salah satu informasi yang disampaikan pagi ini adalah tentang seorang artis, bernama Chris Salam, yang tengah bermasalah dengan seseorang perihal kerjasama bisnis dan penipuan. Ya, semacam itulah. Saya juga tidak terlalu memperhatikan.

Read More »

Sabtu lalu (13/12) saya mengikuti roundtable discussion Jurnalisme dan Etika Publik yang diselenggarakan oleh LP3Y dan Tifa Foundation di Jogja Plaza Hotel (dulu Radison). Dalam diskusi tersebut, saya kurang menyepakati pendapat yang mengemukakan bahwa dalam Jurnalisme, di Indonesia khususnya, persoalan teknis sudah selesai. Meskipun mungkin pendapat tersebut dilontarkan dalam konteks bahwa ada persoalan yang lebih krusial selain teknis, saya tetap tidak bisa menyingkirkan kegelisahan saya bahwa masalah teknis untuk Jurnalisme di Indonesia, masih sangat kurang (untuk tidak menyebutnya parah).

Beberapa postingan saya sebelumnya jelas mengindikasikan betapa persoalan teknis masih menghantui kerja jurnalisme di Indonesia. Misalnya mengenai teknik mewawancara narasumber yang kebetulan anak-anak, teknik menyampaikan lokasi peristiwa yang asal-asalan, dan lain sebagainya.

Read More »

Sewaktu kecil, saya mempunyai masalah dengan peta. Saya susah membaca letak suatu tempat dan menentukan arah dimana tempat itu berada. Saya selalu ngeles bahwa ketidakmampuan saya itu karena bakat saya memang di IPA (meskipun pada akhirnya dengan kesadaran penuh saya banting setir ke IPS ketika SMA).

Lalu ketika besar, saya memiliki penjelasan yang lebih ilmiah. Terutama setelah membaca “Why Men don’t listen and Woman can’t read a map“. Saya makin percaya bahwa dalam beberapa kasus, perempuan memang susah menentukan letak dan arah.

Namun, saya tidak punya masalah dengan menghafal nama-nama tempat. Saya tahu Balikpapan itu jelas bukan di Kalimantan Selatan. Saya juga tahu bahwa Pekalongan itu tidak di Sulawesi. Saya pikir pengetahuan-pengetahuan semacam itu tentulah pengetahuan umum yang semua orang tahu.

Tapi ternyata saya salah. Pengalaman saya ketika menonton acara televisi dengan beberapa teman (salah satunya adalah si Balada PNS) kemarin sore, meruntuhkan segala asumsi saya.

Read More »