Category Archives: Dead Poet Society

Saya rindu hujan,

Saya kangen pada aroma tanah basah yang dibawa gerimis

Pada rintik yang turun satu-satu

Pada riak genangan air yang membasahi jalanan berdebu

Saya rindu hujan..

Rindu menatap dari balik jendela berteman teh dan tawa

Rindu bergelung dalam selimut lama-lama

Read More »

Saya mulai menulis puisi sejak SD. Kegemaran saya menulis memang telah terlihat sejak saya bisa memegang pulpen/kapur/pensil dan sebangsa alat tulis lainnya. Hal ini terindikasi dari coret-coretan yang saya buat. Mulai dari menulis nama sendiri di tembok kamar orang tua saya, hingga menulis keinginan-keinginan terpendam saya di bagian bawah meja makan keluarga. Saat bersekolah, saya tidak merasa kegemaran saya tersebut terfasilitasi, kecuali saat pelajaran mengarang yang selalu diawali dengan kalimat: “Pada suatu hari..” itu.

Tapi di kelas V (lima), saya menemukan momen yang barangkali merupakan batu pijakan saya untuk lebih menekuni puisi. Waktu itu, saya nekat mengumpulkan puisi karya saya yang telah saya bingkai dan hias dengan cantik (menurut saya), untuk menggantikan tugas prakarya mengukir bambu yang tidak bisa saya lakukan. Beruntung, guru saya cukup baik dengan mengapresiasi karya saya. Jadilah saya tekun menulis puisi sejak saat itu.

Read More »

Kemarin..

aku menemukan secarik kertas di depan rumah

tampak kusam dan sedikit basah oleh sisa hujan semalam

kuambil kertas itu dan kubaca isinya:

“Aku mengenal seorang perempuan

dia sering menyebut dirinya mawar padang pasir

waktu kutanya mengapa

dia hanya tersenyum dan menjawab

aku mawar padang pasir yang mencari oase, begitu katanya padaku

Read More »

Harum tubuhmu sayang,

Terselip di setiap ruang pada bayu

Di sepanjang jalan yang dilalui waktu

Menusuk-nusuk simpul syaraf kesadaranku

Memunculkan rasa yang disebut orang: RINDU..

Jogja, 26th of January 2009

-Hayu-

Ditulis sembari mendengarkan Senandung Rindu by Tohpati dan Sutha AFI

Sore ini aku tak jadi pulang sendiri

Senja menawarkan dirinya untuk mengiringi

“Biarkan aku ada di sebelah kananmu”, begitu katanya padaku

Awalnya aku heran

Tak biasanya senja menemuiku saat aku sendirian

Lalu kami bercakap-cakap

Sebelum raksasa abu-abu menyeretnya ke barat

Kubilang padanya: “Tumben kau mau menemuiku saat aku sendirian saja?”

Dia mengangkat kedua alisnya dan balik bertanya:

“Siapa bilang kamu sendirian?”

Aku semakin heran

Melihat ekspresiku, senja tertawa tertahan

“Hayu..hayu..kamu tidak sendirian sayangku, sejak hari itu, aku tidak pernah melihatmu sendirian, selalu ada dia, bahkan, sebenarnya tak ada lagi kamu, melainkan kalian, ya, kalian..”

“Maksudmu?” aku bertanya lagi

Senja menguap pelan, lalu mendekat ke arahku

Lebih dekat dari sebelumnya

Dia berkata sambil menggenggam kedua tanganku

“Tidak sadarkah kamu? Dia selalu ada di hatimu. Kau bawa kemana-mana. Tak peduli kali ini kau sedang mengendarai motor sendiri. Dia ada disini. Jadi aku tidak sedang menjilat ludahku karena menemanimu sore ini.”

Aku termangu

Yang tadinya terasa jauh kini seperti ada tepat di depanku

Pelan tapi pasti, senja melonggarkan genggamannya

Raksasa abu-abu semakin kuat menariknya

Aku hanya bisa memberinya pandangan terima kasih

Yang sedikit kabur karena genangan air mata

Ah ternyata sore ini

Aku tak jadi pulang sendiri..

Jogja-Wonosari

16th of January 2009

-Hayu-