Category Archives: Opini-ku

Barusan saya ditelpon sepupu saya. Namanya Litha. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas IV. Dulu, saat saya masih SMA dan masa-masa awal kuliah, saya nebeng di rumahnya, jadilah dia dekat dengan saya. Kepada saya Litha bertanya tentang soal-soal PPKn yang menjadi tugas rumahnya kali ini (ah, untung bukan matematika. Saya tak pandai dalam angka. Mengutip Berger, I’m the woman without quantities ;) ).

Litha bertanya soal lembaga penegak hukum, soal mekanisme penegakan hukum, soal LBH, KUHP, dan lain sebagainya. Pertanyaan Litha tersebut membuat saya memikirkan dua hal. Pertama soal pendidikan SD sekarang yang tampaknya lebih rumit dari masa saya dulu. Kedua, soal perseteruan dua lembaga besar di negeri ini terkait penegakan hukum.

Read More »

Judul ini sebenarnya sudah pernah saya pakai ketika menulis sebuah Tajuk saat saya masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi sebuah media komunitas kampus beberapa tahun silam. Isinya tentang fenomena di UGM yang mau apa-apa saja harus meminta bayaran. Bahkan kepada mahasiswanya sendiri. Bayar parkir di KPTU Teknik berkedok ATM, bayar uang untuk pinjam peralatan, dan lain sebagainya. Sebuah situasi yang menurut saya, makin mengasingkan UGM dari mahasiswanya sendiri.

Rangkaian kalimat dalam judul ini kembali menghentak saya saat kabar pemasangan palang portal di pintu masuk boulevard UGM ramai mewarnai status facebook teman-teman saya. Ada yang bilang ini soal komersialisasi, ada juga yang bilang ini mengeksklusifkan diri. Seolah UGM tak lagi mau menjadi kampus kerakyatan, yang berarti ditandai dengan manunggaling (bersatunya) UGM dengan rakyat (bersatu disini berarti juga bersatu secara fisik) Read More »

Kemarin saya berbincang dengan suami dan adik ipar saya mengenai dolanan, atau permainan kalau dalam Bahasa Indonesia. Kami bertukar cerita tentang permainan yang kami mainkan saat kami kecil hingga beranjak remaja. Karena usia kami yang tidak terpaut terlalu jauh, maka permainan yang pernah kami mainkan pun tidak jauh berbeda. Lompat tali, bola bekel, gundu (kelereng), engklek, jamuran, perang-perangan adalah segelintir permainan yang pernah kami mainkan di masa itu.
Sesekali kami tertawa mengingat betapa konyolnya kami ketika memainkan dolanan-dolanan tersebut. Kami juga berbagi saat-saat tidak menyenangkan yang harus kami alami karena permainan yang kami mainkan. Misal, lompat tali pernah dilarang di SD saya hingga beberapa tahun karena salah satu teman saya pernah terpeleset dan terluka cukup serius ketika memainkannya.
Iseng saya menyeletuk: “Kalau anak sekarang, ga kenal ya permainan-permainan itu”. Adik ipar saya menjawab bahwa permainan tersebut memang tak lagi lazim di kalangan anak-anak. Namun, beberapa waktu yang lalu, salah seorang sepupu kami membeli bola bekel di Mirota Batik, salah satu pusat belanja barang-barang khas Jogja.

Read More »

Pemilu Legislatif yang berlangsung beberapa bulan lalu, menyisakan satu perasaan untuk saya, yaitu saya merasa dikejar-kejar Pemilu. Dikejar-kejar untuk menggunakan hak pilih, seolah saya tidak berniat memilih saja (memang tidak terlalu berminat sih sebenarnya ;) ).

Sewaktu saya melakukan transaksi melalui ATM sehari sebelum hari pencontrengan tersebut, bagian bawah dari print out yang saya terima bertuliskan “Sukseskan Pemilu 9 April 2009″. Lalu pesan di handphone saya seminggu sebelumya juga berisikan teks yang sama. Waktu itu, saya sempat heran, jangan-jangan aura apatisme terhadap pemilu legislatif tersebut begitu pekat, sehingga ratusan langkah preventif dilakukan untuk mencegahnya. Ya melalui ATM, melalui handphone, dan tentu saja baliho-baliho yang terpampang di jalan raya.

Pesan-pesan yang terselip di account Facebook saya juga menyuarakan hal yang sama. Dari himbauan untuk jangan menjadi golongan putih (golput), golput tidak mengatasi masalah hinggap golput itu haram.

Read More »

Saya punya seorang teman, panggil saja dia Ardi. Usianya terpaut cukup jauh dari saya, tapi kami lumayan sering berdiskusi dan berbagi cerita, dari obrolan berat soal politik hingga diskusi ringan mengenai keluarga.

Ardi belum lama pulang kembali ke Indonesia. Profesinya sebagai seorang dosen mengharuskan ia meninggalkan tanah air tercinta ini demi meraih gelar master–kemudian doktor–di Amerika. Praktis, selama 10 tahun, Ardi “hilang kontak” dengan Indonesia.

“Hilang kontak” tersebut tidak menjadi soal hingga dia bertemu dengan saya, yang merupakan produk “baru” negeri ini. Setiap kali kami berbincang, Ardi sering mengeluarkan kosakata jadul (jaman dulu) yang membuat saya tergelak, entah karena saya tidak tahu artinya, atau karena saya merasa kata tersebut sudah usang dan tidak lazim digunakan. Kata-kata usang tersebut antara lain mangsi (untuk menyebut pulpen tinta), atau mejeng untuk menyebut nampang. Masalah yang hampir sama muncul ketika saya mengeluarkan kosakata yang baru baginya, semisal lemot (lemah otak), TTM (teman tapi mesra) atau Tepe-Tepe (tebar pesona yang bisa juga diartikan sebagai nampang).

Persoalannya memang bukan di Ardi, tapi dari waktu yang hilang selama dia di Amerika, yang ternyata melahirkan begitu banyak kosakata baru.

Read More »