<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>-Hamemayu-</title>
	<atom:link href="http://akuhayu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akuhayu.wordpress.com</link>
	<description>Knowledge is in the air..</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 13:55:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='akuhayu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cce3bd752ba9cda06006f64a5b9dc74a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>-Hamemayu-</title>
		<link>http://akuhayu.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Nginguk Gethok (Melihat Tengkuk)</title>
		<link>http://akuhayu.wordpress.com/2009/11/04/nginguk-gethok-melihat-tengkuk/</link>
		<comments>http://akuhayu.wordpress.com/2009/11/04/nginguk-gethok-melihat-tengkuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 13:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuhayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit]]></category>
		<category><![CDATA[Chandra]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kasus]]></category>
		<category><![CDATA[kearifan]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[malu]]></category>
		<category><![CDATA[penegakan]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuhayu.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Barusan saya ditelpon sepupu saya. Namanya Litha. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas IV. Dulu, saat saya masih SMA dan masa-masa awal kuliah, saya nebeng di rumahnya, jadilah dia dekat dengan saya. Kepada saya Litha bertanya tentang soal-soal PPKn yang menjadi tugas rumahnya kali ini (ah, untung bukan matematika. Saya tak pandai dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=444&subd=akuhayu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Barusan saya ditelpon sepupu saya. Namanya Litha. Dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas IV. Dulu, saat saya masih SMA dan masa-masa awal kuliah, saya <em>nebeng</em> di rumahnya, jadilah dia dekat dengan saya. Kepada saya Litha bertanya tentang soal-soal PPKn yang menjadi tugas rumahnya kali ini (ah, untung bukan matematika. Saya tak pandai dalam angka. Mengutip Berger, <em>I&#8217;m the woman without quantities</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Litha bertanya soal lembaga penegak hukum, soal mekanisme penegakan hukum, soal LBH, KUHP, dan lain sebagainya. Pertanyaan Litha tersebut membuat saya memikirkan dua hal. Pertama soal pendidikan SD sekarang yang tampaknya lebih rumit dari masa saya dulu. Kedua, soal perseteruan dua lembaga besar di negeri ini terkait penegakan hukum.</p>
<p><span id="more-444"></span></p>
<p>Pemikiran yang kedua<em>lah</em> yang ingin saya urai melalui tulisan ini.<br />
Belakangan ini saya memang rajin mengikuti perkembangan kasus Bibit-Chandra. Saya mencatat, merenung, memperhatikan. Saya menjadi salah satu yang mendukung penolakan penahanan Bibit-Chandra. Baik melalui <em>causes</em> di situs jejaring sosial atau hanya dengan mendoakan dalam hati.<br />
Bagi saya, kebusukan-kebusukan macam ini tak sepantasnya mencemari tanah air saya tercinta: Indonesia. Ah, saya jadi nasionalis kali ini. Hehehehe.<br />
Lalu sore tadi, saya menonton berita yang ada di televisi. Menyimak konferensi pers dari Kepolisian Republik Indonesia mengenai tidak kunjung ditangkapnya Anggodo. Menurut mereka, belum ada bukti yang cukup kuat untuk menjadikan Anggodo sebagai tersangka. Pernyataan yang membuat saya geleng-geleng kepala.<br />
Inilah ternyata yang disebut ibu saya sebagai &#8220;Nginguk Gethok&#8217;e Dhewe Kuwi Angel&#8221; atau melihat tengkuk sendiri itu susah. Ibu saya dulu mengajari kearifan ini pada saya setiap kali saya memprotes sikap atau tindakan seseorang yang menghujat keburukan orang lain tapi abai pada keburukan sendiri. Sikap yang katakanlah tidak <em>gentleman</em>. Sikap yang mau menang sendiri. Sikap yang sungguh mati saya benci.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitulah juga kiranya sikap Kepolisian kita. Untuk Anggodo, dia mengatakan tak cukup bukti. Tapi untuk Bibit-Chandra, mereka semaunya sendiri. Tetap bersikeras menahan meski status tersangka tidak melulu harus ditahan. Mereka buru-buru menangkap, menggunakan pasal yang intinya (hanya) berisi kekhawatiran. Tapi ketika kasusnya sudah jelas, mereka justru berkilah, dan dengan bangganya bilang: &#8220;Kita tidak bisa menangkap seseorang hanya karena opini publik. Tetap ada prosedur dan mekanisme hukum yang harus dilakukan&#8221;. Mereka malah sibuk menyidik apakah rekaman yang diperdengarkan dalam uji materi Mahkamah Konstitusi itu asli atau tidak.</p>
<p>Ah, terserah kamulah wahai Bapak Kepolisian yang tak punya malu. Kalau sampai Anggodo keluar negeri mungkin baru tahu rasa kamu (atau justru senang, kalau benar mereka rekanan). Mengingat bahkan dengan Singapura pun, kita tak punya kerjasama hukum (yang kuat).</p>
<p>Saya memang tak punya kapasitas mumpuni untuk bicara banyak soal ini. Saya hanyalah satu dari banyak orang yang peduli (meski saya tak memakai pita hitam di lengan kiri dan <em>ringtone </em>saya bukan &#8220;KPK di dadaku&#8221;). Saya hanya ingin berkata pada ibu saya yang menanti kepulangan saya akhir pekan ini: &#8220;Leres Bu, nginguk gethok&#8217;e dhewe niku angel&#8221; (Benar Bu, menoleh tengkuk sendiri itu susah).</p>
Posted in Opini-ku Tagged: Bibit, Chandra, hukum, kasus, kearifan, KPK, malu, penegakan, televisi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuhayu.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuhayu.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuhayu.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuhayu.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuhayu.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuhayu.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuhayu.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuhayu.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuhayu.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuhayu.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=444&subd=akuhayu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuhayu.wordpress.com/2009/11/04/nginguk-gethok-melihat-tengkuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">akuhayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Campur Aduk Bahasa Dalam Lirik Lagu Indonesia</title>
		<link>http://akuhayu.wordpress.com/2009/10/27/campur-aduk-bahasa-dalam-lirik-lagu-indonesia/</link>
		<comments>http://akuhayu.wordpress.com/2009/10/27/campur-aduk-bahasa-dalam-lirik-lagu-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 07:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuhayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Berbahasa]]></category>
		<category><![CDATA[asing]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[campur aduk]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[lirik]]></category>
		<category><![CDATA[warisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuhayu.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Kecenderungan untuk memadukan atau mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Asing dalam lagu Indonesia, ternyata telah ada sejak jaman dahulu kala. Pagi ini, tanpa sengaja saya mendengarkan sebuah lagu yang diputar di stasiun televisi. Judulnya “Kopral Jono”, lagu khas perjuangan yang kerap saya dengar ketika tiba saat perayaan kemerdekaan di kampung saya dulu.
Baru pagi ini saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=441&subd=akuhayu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kecenderungan untuk memadukan atau mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Asing dalam lagu Indonesia, ternyata telah ada sejak jaman dahulu kala. Pagi ini, tanpa sengaja saya mendengarkan sebuah lagu yang diputar di stasiun televisi. Judulnya “Kopral Jono”, lagu khas perjuangan yang kerap saya dengar ketika tiba saat perayaan kemerdekaan di kampung saya dulu.</p>
<p>Baru pagi ini saya benar-benar mencermati lirik lagu tersebut, dan jidat saya langsung mengernyit ketika di bagian <em>reff</em>, saya mendengar lirik yang kurang lebih seperti ini: “ Wajahnya memang <em>very good</em>, seperti mas Robin Hood”. Aih, ternyata campur-campur dalam lirik lagu sudah dikenal dari dulu.</p>
<p>Barangkali itu menjelaskan mengapa lagu-lagu sekarang juga kerap mencampuradukkan bahasa. Dimulai dari <em>Kuldesak</em> ciptaan seniman (maaf) angkuh Ahmad Dhani, kemudian disusul dengan lagu-lagu yang lain dan terus saja menjamur hingga saat ini. Simak saja lirik lagu “Oh Baby” nya cinta Laura: “<em>Katakan-katakan kau sungguh-sungguh, Hanya ada aku di dalam hatimu, Katakan-katakan kau cinta aku, Untuk selamanya kau jadi milikku, I don’t wanna loose you, yes I wanna hold you..</em>”, atau “Klik”-nya Ussy : “<em>Apa kau menantangku, Untuk menjadikanmu, Cita-cita hatiku, I will do it, I will do it..</em>”. Pada lirik-lirik tersebut, jelas terlihat kombinasi antara kata-kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.</p>
<p><span id="more-441"></span>Itu untuk lagu-lagu yang dianggap “rendah”. Simak juga hasil karya mereka yang diklaim sebagai Diva Indonesia: Titi DJ, Ruth Sahanaya, dan Krisdayanti. Dalam lagu terbaru mereka, judul yang diberikan pun sudah bukan dalam Bahasa Indonesia, yaitu <em>A lotta love </em>(yang merupakan versi slank dari <em>a lot of love</em>), apalagi dengan liriknya, sudah jelas tidak murni dalam kata-kata Bahasa Indonesia.</p>
<p>Saya bukan bermaksud menghakimi si pembuat lagu. Memangnya ada aturan yang megharuskan lirik lagu Indonesia harus dalam Bahasa Indonesia? Saya kira tidak. Saya ini hanya seorang penikmat&#8211;yang tengah belajar menjadi pengamat&#8211;dan (toh) sedikit atau banyak saya menyepakati Remy Silado, yang pernah menyebutkan bahwa satu dari sepuluh Bahasa Indonesia adalah asing. Bagaimana tidak asing? Bahkan kata <em>dokar, delman, grobak, sado </em>dan<em> bendi</em> adalah persembahan peradaban pendatang yaitu Belanda (lebih jauh baca bagian ketiga dari tetralogi Parmoedya: <em>Jejak Langkah</em>). Jadi wajar kalau para pencipta lagu sering merasa kekurangan kata. Meski jujur, saya masih kerap didera perasaan tidak nyaman saat mendengar kata “secara” dipergunakan bukan dengan sebagaimana mestinya.</p>
<p>Satu-satunya hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah fakta, bahwa ternyata, fenomena campur aduk lirik lagu itu bukan soal kesenjangan generasi seperti yang kita yakini selama ini. Kita terbiasa menganggap bahwa generasi sekarang lebih amburadul dari generasi sebelumnya. Bahwa generasi dulu lebih adi luhung, lebih hebat dalam semuanya. Termasuk dalam hal mencipta lirik lagu (soal musikalitas tidak saya singgung disini).</p>
<p>Bagi saya, fenomena ini merupakan proses panjang pewarisan sejarah ketidakmampuan. Ketidakmampun kita dalam memiliki dan menggunakan bahasa kita sendiri untuk lagu kita sendiri. Sehingga kita harus mengambil kata-kata dalam bahasa asing, untuk sekedar menulis: <em>aku mencintaimu</em>.</p>
Posted in Belajar Berbahasa Tagged: asing, bahasa, campur aduk, indonesia, Inggris, kata, lagu, lirik, warisan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuhayu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuhayu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuhayu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuhayu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuhayu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuhayu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuhayu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuhayu.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuhayu.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuhayu.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=441&subd=akuhayu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuhayu.wordpress.com/2009/10/27/campur-aduk-bahasa-dalam-lirik-lagu-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">akuhayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berharap Hujan Turun</title>
		<link>http://akuhayu.wordpress.com/2009/10/13/berharap-hujan-turun/</link>
		<comments>http://akuhayu.wordpress.com/2009/10/13/berharap-hujan-turun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 06:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuhayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dead Poet Society]]></category>
		<category><![CDATA[debu]]></category>
		<category><![CDATA[dingin]]></category>
		<category><![CDATA[gerimis]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[jendela]]></category>
		<category><![CDATA[kangen]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[tanah basah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuhayu.wordpress.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Saya rindu hujan,
Saya kangen pada aroma tanah basah yang dibawa gerimis
Pada rintik yang turun satu-satu
Pada riak genangan air yang membasahi jalanan berdebu
&#8212;
Saya rindu hujan..
Rindu menatap dari balik jendela berteman teh dan tawa
Rindu bergelung dalam selimut lama-lama
&#8212;
Bukannya saya tak cinta matahari
Saya suka kehangatan dan optimisme yang dipancarkan surya
Tapi saya tak suka gerah yang menyiksa
Membuat badan cepat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=436&subd=akuhayu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya rindu hujan,</p>
<p>Saya kangen pada aroma tanah basah yang dibawa gerimis</p>
<p>Pada rintik yang turun satu-satu</p>
<p>Pada riak genangan air yang membasahi jalanan berdebu</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Saya rindu hujan..</p>
<p>Rindu menatap dari balik jendela berteman teh dan tawa</p>
<p>Rindu bergelung dalam selimut lama-lama</p>
<p><span id="more-436"></span>&#8212;</p>
<p>Bukannya saya tak cinta matahari</p>
<p>Saya suka kehangatan dan optimisme yang dipancarkan surya</p>
<p>Tapi saya tak suka gerah yang menyiksa</p>
<p>Membuat badan cepat lengket dan bau sebelum waktunya</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Saya rindu hujan,</p>
<p>Maka disinilah saya sekarang</p>
<p>Duduk berteman secangkir kopi dan sepiring kentang</p>
<p>Membelakangi jendela dan berharap ketika saya menoleh, hujan akan segera datang..</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Kedai Kopi, sembari nunggu rapat, 13 Oktober 2009</p>
<p>-Hayu-</p>
Posted in Dead Poet Society Tagged: debu, dingin, gerimis, hujan, jendela, kangen, matahari, puisi, rindu, tanah basah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuhayu.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuhayu.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuhayu.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuhayu.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuhayu.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuhayu.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuhayu.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuhayu.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuhayu.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuhayu.wordpress.com/436/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=436&subd=akuhayu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuhayu.wordpress.com/2009/10/13/berharap-hujan-turun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">akuhayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iklan Yang Saya Suka</title>
		<link>http://akuhayu.wordpress.com/2009/09/29/iklan-yang-saya-suka/</link>
		<comments>http://akuhayu.wordpress.com/2009/09/29/iklan-yang-saya-suka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 13:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuhayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Bermedia]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[tontonan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuhayu.wordpress.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Berhubung tidak ada satupun acara TV yang layak tonton menurut saya, maka saya jadi lebih suka memperhatikan dan menonton iklan. Mencoba menganalisisnya dari perspektif keindahan maupun melihat pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan pengamatan saya, ada juga iklan-iklan yang indah, baik secara isi (substansi) maupun tampilan (visual). Iklan yang tak hanya mementingkan satu kata yaitu: Jual!.
Pertama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=434&subd=akuhayu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berhubung tidak ada satupun acara TV yang layak tonton menurut saya, maka saya jadi lebih suka memperhatikan dan menonton iklan. Mencoba menganalisisnya dari perspektif keindahan maupun melihat pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan pengamatan saya, ada juga iklan-iklan yang indah, baik secara isi (substansi) maupun tampilan (visual). Iklan yang tak hanya mementingkan satu kata yaitu: Jual!.</p>
<p>Pertama, saya mencatat iklan <em>Susu Bendera ( Frisian Flag).</em> Saya selalu suka iklan-iklannya, baik versi reguler—“selalu ada senyum dari generasi ke generasi”—maupun versi puasa yang “saling menguatkan”. Iklan-iklan tersebut menarik karena pesan yang disampaikan tak melulu soal “ayo minum susu”, tapi juga sesuatu yang lain yang muncul karena aktivitas minum susu tersebut: kebersamaan, persaudaraan, tawa. Mirip dengan iklan <em>Sariwangi </em>yang “Mari Bicara” tapi eksekusinya menurut saya, jauh lebih bagus iklan <em>Susu Bendera</em> ini.</p>
<p><span id="more-434"></span>Kedua, iklan <em>Indomie</em> versi Ramadhan, yang seolah menebus “kejelekan’ iklan versi kampanye yang ada sebelumnya. Saya suka musik dan visual iklan ini. Sangat menarik. Bukan tipe <em>hard-advertisement</em> yang biasanya memperlihatkan adegan makan mie, tapi lebih menekankan pda kekuatan lagu dan visual.</p>
<p>Ketiga, saya suka iklan sejenis coklat (saya lupa namanya) yang sangat menohok iklan pemutih wajah karena mengadaptasi gaya iklan mereka. Konyol dan menarik (meskipun tidak serta merta membuat saya berniat membeli produknya).</p>
<p>Keempat iklan <em>Pepsodent </em>versi “kebiasaan menyikat gigi dari kecil” dan “ayo kita perbaiki”. Selain karena pemerannya sangat pas, juga karena pesannya jelas. Iklan versi ini jauh lebih baik dari iklan <em>Pepsodent </em>yang “Ilmiah vs alami”.</p>
<p>Kelima, iklan <em>Telkomsel</em> versi sholat di Musholla terpencil di tengah hutan. Tidak banyak kata tapi pesannya justru sangat terasa.</p>
<p>Namun, selain iklan-iklan yang saya anggap bagus tersebut, tentu saja ada iklan-iklan jelek yang tak peduli soal keindahan dan kreativitas. Iklan-iklan ini (sayangnya) jumlahnya lebih banyak. Sebut saja, segala jenis iklan ketik Reg, Iklan cat tembok versi “tetangga yang tidak saling bertegur sapa hingga datang seseorang membawa cat”, iklan sepeda motor (kecuali <em>Yamaha Vega</em> karena didukung akting prima Dedy Mizwar dan Didi Petet), semua iklan produk kecantikan (yang selalu menginjekasi audiens dengan makna tunggal bahwa cantik itu putih, cantik itu mulus, cantik itu tanpa noda) dan masih banyak lagi.</p>
<p>Tentu saja, pendapat saya ini sifatnya sangat personal. Benar tidaknya sangat subyektif. Namun, satu hal yang mungkin bisa dicatat adalah betapa parahnya kualitas tayangan di televisi kita sehingga saya lebih suka menonton iklannya daripada acaranya.</p>
Posted in Belajar Bermedia Tagged: iklan, televisi, tontonan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuhayu.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuhayu.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuhayu.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuhayu.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuhayu.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuhayu.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuhayu.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuhayu.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuhayu.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuhayu.wordpress.com/434/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=434&subd=akuhayu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuhayu.wordpress.com/2009/09/29/iklan-yang-saya-suka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">akuhayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkontemplasi Melalui Puisi</title>
		<link>http://akuhayu.wordpress.com/2009/09/10/berkontemplasi-melalui-puisi/</link>
		<comments>http://akuhayu.wordpress.com/2009/09/10/berkontemplasi-melalui-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 07:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akuhayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dead Poet Society]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[karya]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuhayu.wordpress.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Saya mulai menulis puisi sejak SD. Kegemaran saya menulis memang telah terlihat sejak saya bisa memegang pulpen/kapur/pensil dan sebangsa alat tulis lainnya. Hal ini terindikasi dari coret-coretan yang saya buat. Mulai dari menulis nama sendiri di tembok kamar orang tua saya, hingga menulis keinginan-keinginan terpendam saya di bagian bawah meja makan keluarga. Saat bersekolah, saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=431&subd=akuhayu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya mulai menulis puisi sejak SD. Kegemaran saya menulis memang telah terlihat sejak saya bisa memegang pulpen/kapur/pensil dan sebangsa alat tulis lainnya. Hal ini terindikasi dari coret-coretan yang saya buat. Mulai dari menulis nama sendiri di tembok kamar orang tua saya, hingga menulis keinginan-keinginan terpendam saya di bagian bawah meja makan keluarga. Saat bersekolah, saya tidak merasa kegemaran saya tersebut terfasilitasi, kecuali saat pelajaran mengarang yang selalu diawali dengan kalimat: “<em>Pada suatu hari..</em>” itu.</p>
<p>Tapi di kelas V (lima), saya menemukan momen yang barangkali merupakan batu pijakan saya untuk lebih menekuni puisi. Waktu itu, saya nekat mengumpulkan puisi karya saya yang telah saya bingkai dan hias dengan cantik (menurut saya), untuk menggantikan tugas prakarya mengukir bambu yang tidak bisa saya lakukan. Beruntung, guru saya cukup baik dengan mengapresiasi karya saya. Jadilah saya tekun menulis puisi sejak saat itu.</p>
<p><span id="more-431"></span>“Karir” saya dalam menulis puisi diawali dengan puisi-puisi yang jujur. Lazimnya anak SD, saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis, tanpa memedulikan bagus tidaknya tulisan itu. Tak heran jika tulisan saya bergerak di seputaran aktvitas yang menerpa saya, semisal puisi tentang “Televisi” atau “Malam yang Sepi”. Kata-katanya pun sederhana, dan sangat menjelaskan keadaan saat saya menulis puisi. Dalam “Malam yang Sepi” misalnya, dengan polos saya menulis:</p>
<p><em>“Malam yang sepi aku sendiri</em></p>
<p><em>Bapak dan Ibu pergi resepsi…”</em></p>
<p><em>(Malam yang Sepi, 1997)</em></p>
<p>Konteks ketika saya menulis puisi ini memang saat orang tua saya menghadiri suatu resepsi pernikahan. Saya tentu saja belum kenal teks yang terikat konteks ketika menulis puisi tersebut, tapi begitulah cara saya menulis: gamblang, lugas dan apa adanya (tak masalah kalau ternyata menjadi jelek pada akhirnya).<em></em></p>
<p>Memasuki masa SMP, saya mulai belajar menggunakan kiasan. Biru tak melulu berarti biru. Langit tak selalau bermakna denotatif. Saya mulai merangkai kata-kata puitik. Saya memilih dan memilah benar kalimat yang akan saya gunakan. Di masa ini, cinta menjadi tema utama puisi-puisi saya. Terutama cinta antara laki-laki dan perempuan. Maklum, saya juga mulai belajar jatuh cinta (monyet) waktu itu. Hal ini saya bawa hingga SMA. Saya makin gemar bermain metafora. Simak salah satunya di puisi ini:<em></em></p>
<p><em>“Di sini cinta pertama kali bersemi,</em></p>
<p><em>Diantara warna putih dan abu-abu</em></p>
<p><em>Diantara kesedihan seorang anak dan kelapangan dada seorang dewasa…”</em></p>
<p><em>(Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, 2003)</em></p>
<p>Atau yang ini:</p>
<p><em>“…Biarlah kunikmati keindahanmu dalam maya</em></p>
<p><em>Dalam dingin yang berhembus searah tiupan angin utara</em></p>
<p><em>Bersama rintik yang menari di pelataran hati</em></p>
<p><em>Bersama hujan yang mampir sebentar malam ini”</em></p>
<p><em>(Hujan yang Mampir Sebentar, 2004)</em></p>
<p>Di fase ini, saya juga mulai menulis puisi cinta pada Tuhan. Dua puisi kemudian lahir: “<em>Tuhan, Izinkan Aku Menangis</em>”, dan “<em>Musafir</em>”. Dalam kedua puisi ini pun, saya masih saja bermain rima. Saya terus mengunakan bait yang bersajak a-b a-b. Entah mengapa, saya suka sekali gaya bersyair yang satu itu.</p>
<p>Lalu sekarang, secara teknis dan tema, tak banyak yang berubah dalam puisi saya. Tapi tentu saja, saya belajar untuk menulis puisi secara lebih dewasa. Lebih matang. Masih melankolis puitis tentu saja (karena itu memang gaya saya), tapi tak lagi mengumbar terlalu banyak kata cinta. Saya belajar memperkaya diksi. Saya memperbaiki metafora dan kiasan yang saya gunakan. Saya “meminjam” kepuitisan alam. Saya juga mencoba memainkan peran dalam sebuah puisi. Salah satunya dalam puisi berikut:</p>
<p><em>“Kau dan aku seperti pasangan yang baru saja pacaran,</em></p>
<p><em>Masih kasmaran,</em></p>
<p><em>Terus berkirim pesan,</em></p>
<p><em>Mengumbar rayuan…”</em></p>
<p><em>(Pasangan yang Baru Saja Pacaran, 2007).</em></p>
<p>Juga dalam puisi ini:</p>
<p><em>“…tapi kini, saat kita telah dewasa dan menua</em></p>
<p><em>Kita justru terbata-bata mengeja cinta”</em></p>
<p><em>(Terbata-bata Mengeja Cinta, 2009).</em></p>
<p>Saya selalu merasa bahwa berpuisi merupakan bentuk berkontemplasi. Saya sangat menyepakati kalimat Prof Suminto yang ia lontarkan dalam peluncuran antologi puisi “<em>Lilin-Lilin Melawan Angin</em>” karya Slamet Riyadi Sabrawi yang saya ikuti Senin lalu (07/09). Berpuisi adalah salah satu betuk menikmati dan merayakan kehidupan. Puisi adalah ekstrasi dari perenungan panjang atau sekadar coletahan tanpa makna. Apapun itu, puisi selalu membantu penulisnya menikmati kehidupan dalam setiap detiknya. Tidak terkecuali bagi saya.</p>
<p>Dari diskusi itu juga saya menemukan kembali semangat untuk membukukan karya-karya puisi saya suatu saat nanti. Awalnya saya sempat dihantui ketakutan dan kekhawatiran atas karya saya yang sepertinya terlalu personal. Saya takut orang lain tak bisa menikmatinya. Tapi seperti kata Prof Suminto, puisi—karya Pak Slamet diantaranya—tidak bermaksud mendikte pembaca untuk memahami puisi tersebut seperti yang diinginkan/diniatkan oleh penulisnya. Pembaca memiliki kebebasan untuk membentuk makna mereka sendiri. Mau memahami atau sekadar menikmati, atau keduanya, tak lagi menjadi soal bagi penulis. Barangkali, thesis Roland Barthes bahwa “<em>The author is dead</em>” juga berlaku dalam puisi. Penulis hanya berkarya, makna sejatinya ada di benak pembaca.</p>
<p>Lagipula, betapapun personal karya yang saya buat, saya percaya, ada fase-fase yang sama yang pernah dilalui manusia, sehingga sebuah puisi bisa jadi mampu merayakan/mewakili perasaan banyak manusia sekaligus. Jadi saya memutuskan untuk menyingkirkan ketakutan saya itu dan terus menekuni puisi.</p>
<p>Semoga seperti Pak Slamet (omong-omong cucunya ganteng sekali Pak <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ), saya bisa menjaga “roh” (baca: semangat/motivasi) untuk terus berpuisi. Kalaupun tidak terbukukan, biarlah menjadi sarana berkontemplasi saya secara pribadi atau setidaknya menjadi karya sederhana yang bisa saya ceritakan pada anak cucu saya nanti.</p>
Posted in Dead Poet Society Tagged: karir, karya, makna, menulis, puisi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuhayu.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuhayu.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuhayu.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuhayu.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuhayu.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuhayu.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuhayu.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuhayu.wordpress.com/431/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuhayu.wordpress.com/431/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuhayu.wordpress.com/431/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuhayu.wordpress.com&blog=2224450&post=431&subd=akuhayu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuhayu.wordpress.com/2009/09/10/berkontemplasi-melalui-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">akuhayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>