Judul ini sebenarnya sudah pernah saya pakai ketika menulis sebuah Tajuk saat saya masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi sebuah media komunitas kampus beberapa tahun silam. Isinya tentang fenomena di UGM yang mau apa-apa saja harus meminta bayaran. Bahkan kepada mahasiswanya sendiri. Bayar parkir di KPTU Teknik berkedok ATM, bayar uang untuk pinjam peralatan, dan lain sebagainya. Sebuah situasi yang menurut saya, makin mengasingkan UGM dari mahasiswanya sendiri.
Rangkaian kalimat dalam judul ini kembali menghentak saya saat kabar pemasangan palang portal di pintu masuk boulevard UGM ramai mewarnai status facebook teman-teman saya. Ada yang bilang ini soal komersialisasi, ada juga yang bilang ini mengeksklusifkan diri. Seolah UGM tak lagi mau menjadi kampus kerakyatan, yang berarti ditandai dengan manunggaling (bersatunya) UGM dengan rakyat (bersatu disini berarti juga bersatu secara fisik) Read More »