Hidup Tak Ubahnya Satu Set Permainan Kartu

Judul: Misteri Soliter
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Jalasutra
Tahun: 2005 (cetakan kedua)
Tebal: 433 hal

…Jika dunia adalah sebuah tipuan sulap, maka harus ada seorang tukang sulap agung di balik itu semua…

Begitu mendengar kata soliter, yang biasanya terlintas dalam benak kita adalah sebuah permainan kartu yang ada di komputer. Ya, buku ini memang bercerita tentang soliter, permainan yang terkenal itu. Tapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Anda akan menemukan trik bermain soliter di dalamnya. Disini, soliter dipandang dengan kacamata yang sedikit “lain”. Dia diceritakan bukan hanya sebagai sebuah permainan, melainkan juga sebagai “hidup” itu sendiri.

Misteri Soliter karya Jostein Gaarder secara fantastis bercerita tentang Hans Thomas, bocah berusia 12 tahun yang menemukan sepaket misteri dalam perjalanannya ke Yunani. Ditemani ayahnya yang jenius tapi pemabuk, Hans Thomas mencari ibu yang meninggalkannya sejak usia empat tahun. Dengan fasihnya, Jostein memadukan fantasi dengan filsafat dalam memunculkan sosok-sosok pembawa misteri. Mulai dari kurcaci yang memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar, ikan mas berwarna-warni, tukang roti tua pemberi kue kismis dan buku mungil yang berkisah tentang pulau ajaib dan soda pelangi. Di pulau ajaib itulah, hidup 53 kartu remi bernyawa yang menyimpan kisah panjang tiga generasi. Sebuah kisah yang membuktikan bahwa segala sesuatu tidak berjalan dengan hukum kebetulan, dan dia yang mengetahui takdirnya, harus menjalaninya.

Meski tak bergambar, buku ini mampu merangsang imajinasi pembaca lewat penceritaan yang mengalir. Cover yang khas juga subtitle yang mewakili setiap kartu menjadi titik sentral penarik perhatian. Setiap bab diberi nama As hingga Raja. Baik itu Sekop, Wajik, Keriting maupun Hati. Diluar itu, terdapat bab berlabel Joker yang menjelaskan sosok yang bukan bagian dari kelompok manapun sekaligus bisa menjadi bagian dari kelompok manapun. Praktis, terdapat 53 bab singkat dalam buku ini. Sekilas, Misteri Soliter akan mengingatkan kita pada dongeng anak-anak seperti Alice in Wonderland. Namun, paduan antara filsafat, dongeng dan mitologi yang Anda temukan jika membacanya akan meyakinkan Anda bahwa buku ini bukan (hanya) untuk anak-anak. Gaarder dengan jitu menunjukkan sebuah analogi yang istimewa. Satu set kartu memiliki 52 susunan, 1-13 untuk masing-masing kelompok. Lima puluh dua juga merupakan jumlah minggu dalam satu tahun. Dikalikan tujuh hari dan ditambah dua hari (yang mewakili Joker) menjadi 366 hari yang berarti jumlah hari pada tahun kabisat. Hitung-hitungan yang seolah menegaskan bahwa kartu remi bukan kebetulan semata.

Karenanya, Misteri Soliter bisa dianggap sebagai pengantar filsafat yang sederhana. Di dalamnya kita akan meyakini bahwa filsafat bukan suatu hal yang rumit. Ketika kita mulai mempertanyakan “siapa kita” atau “darimana kita berasal”, sebenarnya kita telah menyentuh bagian mendasar dari filsafat itu sendiri. Gaarder (mungkin) memang tengah mengajak kita untuk berfilsafat.

Sayangnya, sebagai sebuah novel terjemahan, Misteri Soliter tidak mengalami proses translating yang sempurna. Hal ini terbukti dengan sering munculnya gap cerita dan kata-kata yang diterjemahkan dengan paksa ke dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, meski sudah mengalami cetak ulang sebanyak dua kali, penerbit sepertinya tidak jeli mencermati kekurangan. Banyak salah cetak disana-sini yang cukup menggangu kenyamanan dalam membaca.

Namun, buku ini tetap cocok bagi mereka-mereka yang menyukai novel dengan isi yang tidak terlalu berat tapi juga bukan ecek-ecek. Juga bagi mereka yang ingin belajar filsafat dengan cara yang sederhana. Banyak hal yang bisa dipelajari dalam buku ini terutama tentang hidup, takdir dan jawaban yang tepat jika Anda masih saja bertanya apakah Tuhan ada?

Kisah dalam buku ini bisa jadi memuaskan imajinasi liar Anda atau sebaliknya membuat Anda beranggapan bahwa isinya hanyalah suatu hal yang terlalu mengada-ada, saya tidak tahu, karena seperti kata-kata Socrates yang diulang-ulang dalam buku ini “Satu-satunya hal yang saya ketahui adalah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”.

Akhirnya, selamat membaca.

2 Comments Add yours

  1. sanggita says:

    Yup! Sepakat, yu. Bukunya ringan tapi berbobot. Menurutku, lebih enak baca Misteri Soliter dulu baru Dunia Sophie, untuk menyelami lebih detail sejarah perjalanan filsafat. Bukunya layak koleksi deh.

    Kalo Wima masuk SMA, dia wajib baca buku ini dulu kali ya. Biar lebih dalem memandang hidup dan ga ikut-ikutan hedonis.

    *Halah, itu masih 12 tahun lagi, Gi…

  2. akuhayu says:

    @sanggita: aduh, kasian wima, ibunya ambisius, hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s