Merayakan Intimasi

Anthony Giddens, dengan bukunya “Transformation of Intimacy” mengajak kita untuk merayakan perubahan status antara laki-laki dan perempuan dalam hal seksualitas, cinta dan keintiman di zaman modern ini. Dituturkan oleh Giddens, transformasi yang tengah terjadi ini menawarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Sebuah kesetaraan yang memberikan kesempatan bagi perempuan untuk bekontemplasi secara seksual tanpa adanya embel-embel bahwa itu ‘benar’ untuk laki-laki tapi ‘tidak’ untuk perempuan.

Dalam masyarakat modern atau post-tradisionalism menurut Giddens, seksualitas, hubungan yang intim, dan identitas politik termasuk dalam konsep diri (self). Giddens memahami intimasi (keintiman) dalam cara yang instrumental. Dia dilihat sebagai sebuah proses dialogis dimana dua orang berusaha saling memahami dengan cara mereka sendiri-sendiri. Dulu, manusia dihadapkan pada pencarian cinta romantis dengan seks sebagai pemacu dan roman sebagai pencarian takdir. Akan tetapi kini, pencarian tersebut tidak lagi berarti penundaan aktivitas seksual hingga hubungan yang diinginkan tercapai. Sebenarnya masih ada kecenderungan bahwa ‘hilangnya virginitas’ dalam pandangan laki-laki merupakan kesalahan, sementara pengalaman seksual bagi laki-laki merupakan sebuah nilai tambah dan keuntungan. Ia menjadi satu diantara sekian banyak simbol kapabilitas laki-laki, dan simbol ketercerabutan perempuan dalam sebuah hubungan yang intim. Namun, ketercerabutan tersebut semakin memudar dan memaksa laki-laki dan perempuan untuk menegosiasikan kembali keintiman yang sebenarnya mereka inginkan.

Menurut sebagian besar orang zaman dulu, cinta terikat dengan seksualitas melalui pernikahan. Tetapi sekarang, dua hal tersebut sudah terjalin erat melalui hubungan yang tulus (pure relationship). Pernikahan – bagi banyak kelompok, meski tidak semuanya – sudah semakin dibelokkan ke bentuk hubungan yang tulus, dan ini merupakan bagian dari restruktrurisasi umum keintiman (Giddens, hal 80). Transformasi yang diungkapkan Giddens ini berlaku tidak hanya bagi perempuan, melainkan juga laki-laki. Laki-laki pada umumnya telah menutup diri dari pengembangan wilayah intim. Hubungan antara cinta romantis dan keintiman ditekan, namun jatuh cinta tetap terjalin erat dengan akses: akses kepada perempuan-perempuan yang reputasinya dilindungi sampai, setidak-tidaknya sebuah penyatuan yang disahkan melalui pernikahan. Persoalannya adalah, laki-laki selalu menginginkan status, penghargaan dan tergabung dalam ritual-ritual solidaritas laki-laki. Tapi mereka mencapainya dengan cara yang salah. Jadi, ketika perubahan keintiman melanda sebagian besar perempuan di dunia ini, beberapa dari mereka mungkin masih menganggapnya sebagai hal yang tidak wajar, aeng, dan tak ingin menjadi bagian dari transformasi tersebut.

Mungkin, bagi sebagian orang, sekarang sudah waktunya perempuan merayakan keintiman mereka dengan cara mereka sendiri. Entah dengan cinta yang romantis, cinta konfluen atau apapun namanya, mungkin sudah saatnya perempuan diakui tidak hanya sebagai pemuja cinta. Ah, tapi saya masih ingin menjadi perempuan Jogja sesuai konsepsi Ahmad Munif. “Perempuan yang tetap setia dan menjaga martabatnya, yang memahami hak-hak dan kewajibannya, perkasa dan tidak cengeng, perempuan yang memiliki definisi tersendiri mengenai gender dan feminisme”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s