Romantisme atau Materialisme?

Apa yang paling diinginkan sebagian besar pasangan di dunia ini?. Jalan-jalan ke Paris untuk melihat menara Eiffel? Naik Gondola di Italia? Atau makan malam di restoran mewah di tepi Pantai?. Bisa jadi ketiga-tiganya. Tiga hal tersebut diinginkan bukan hanya karena mereka menawarkan keindahan dan romantisme, tapi juga karena mereka hadir satu paket dengan kemewahan dan kekayaan.

Itulah satu tarikan besar yang mendasari pemikiran Eva Illouz mengenai consuming romance. Illouz menguraikan banyak sekali gambaran yang menegaskan kembali pemahaman kita mengenai cinta dan romansa dalam bukunya “Consuming the Romantic Utopia: Love and the Cultural Contradictions of Capitalism”. Dia menyatakan bahwa pengalaman akan cinta sejati, ditanamkan oleh pengalaman sebagai konsumen dan penganut kapitalisme. Artinya, konsepsi manusia mengenai cinta dilengkapi oleh gambaran-gambaran atau citra-citra yang terwujud dalam romantic utopia atau impian romantis. Impian tersebut hidup di alam khayal manusia dan dihidupi oleh cinta kasih sekaligus aktivitas eknomi. Misalnya, kencan baru romantis kalo dilakukan di antara ribuan lilin yang menyala di sebuah restoran terkenal bukan di angkringan. Atau, pernikahan baru ‘indah’ ketika dilakukan di ballroom hotel berbintang lima dengan ribuan buket bunga sebagai dekorasinya. Pemaknaan ini – menurut Illouz – dikonstruksi oleh media melalui iklan ataupun penciptaan trend. Ciri khasnya adalah pemakaian barang-barang bagus dan kebahagiaan mutlak yang merupakan esensi dari budaya konsumerisme.

Cinta yang romantis dan budaya yang konsumtif nampaknya telah melebur menjadi satu dan mengakibatkan hukum ketidaksamaan yang ada pada pasar berlaku juga dalam romantisme. Orang biasa melihat romantisme sebagai bagian dari keseharian mereka. Suatu hal yang bisa mereka temukan dalam rutinitas normal yang mereka lakukan di rumah. Sementara orang ‘lebih’ (kaya) menciptakan romantisme dalam bentuk-bentuk yang konsumtif – berekreasi ke tempat-tempat eksotis, makan malam di luar, tukar menukar hadiah, dan mengenakan kosmetika atau pakaian-pakaian tertentu. Cinta yang ideal telah kehilangan nilai-nilai kereligiusannya. Dulu, cinta yang romantis diartikan sebagai kebahagiaan personal yang bisa kita temukan dalam kisah-kisah fiksi, film dan iklan. Lihat saja film-film atau kisah-kisah romantis zaman dulu yang sering diakhiri dengan qoute “Dan mereka hidup bahagia selamanya”. Kebahagiaan dulu adalah sesuatu yang subyektif, bukan sesuatu yang diukur dari jumlah konsumsi seseorang. Penggabungan antara romansa dengan budaya konsumtif inilah yang oleh Illouz disebut sebagai “Political Economy of Romance”.

Ketika cinta telah menjadi bagian dari budaya konsumtif, ketika itulah dia bisa dimaknai secara beragam. Romansa – saat ini – bukan lagi bagian dari ketidaksadaran atas suatu perasaan yang muncul karena getaran di lubuk hati, melainkan sebuah hasil dari kerja dan usaha, yang lebih menekankan pada kalkulasi untung rugi. Rasionalitas pasarlah yang membentuk pengekspresian hasrat manusia. Kini, terserah Anda, bagaimana mengartikannya. Apakah Anda menyetujui konsepsi Illouz atau memilih untuk no-comment, keduanya sah-sah saja. Yang jelas, di tengah kehidupan yang oleh novelis Ahmad Munif disebut sebagai zaman materialistis-hedonis ini, Anda mungkin bukan termasuk orang-orang yang romantis, tapi bisa jadi, Anda termasuk orang-orang yang materialistis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s