Tua Dipuja, Muda Merana

Tulisan ini tidak berpretensi untuk mengekor sebuah iklan rokok dengan merek terkenal. Tulisan ini hanyalah bagian dari unek-unek dan kegelisahan saya yang membuncah akhir-akhir ini. Terutama ketika saya mengikuti perkembangan event olahraga di tanah air yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diselenggarakan di Kalimantan Timur.

Kegelisahan saya terkait dengan dominasi para pemain tua yang masih mewarnai PON kali ini. Saya miris melihat foto atlit-atlit seperti Nurhayati dan teman-teman seangkatannya yang masih berjaya, bahkan di usia mereka yang sudah hamper 40 tahun. Bukan apa-apa, saya juga tidak berniat menghalangi mereka untuk berprestasi atau semacamnya. Saya hanya ingin memberikan semacam wacana, bahwa barangkali, kita memang lemah dalam pembinaan atlit-atlit muda.

Kita tak punya sistem pembinaan yang baik. Hampir di semua cabang olahraga. Yang kita punya adalah sistem comot. Mengambil atlit yang sudah dibina (oleh klub atau orang tua sendiri), dengan dalih membela bangsa dan tanah air. Kemudian menelantarkan mereka, tanpa perhatian yang cukup. Tak heran kalau atlet-atlet nasional yang dulu berjaya, seperti Elias Pical, kini hidup dalam kondisi yang kurang mumpuni. Tak heran juga jika atlet-atlet harus “menjual diri” untuk memastikan dapurnya tetap mengebul. Dari mulai buka bengkel hingga melatih atau membela negara lain. Ironis.

Saya sepakat bahwa PON adalah ajang untuk saling unjuk gigi dari masing-masing propinsi di Indonesia. Sehingga, siapapun yang bermain disana—tua atau muda—tidak menjadi soal selama masih mampu menyumbangkan medali. Namun, jika kita mau merenung sebentar, sampai kapan kita akan bergantung pada mereka? Sampai kapan, saya, atau bahkan anak-anak yang berumur di bawah saya harus menanti giliran?

Kegelisahan saya ini kian menjadi, ketika saya tahu bahwa banyak sekali atlit yang tahun ini membela satu propinsi kemudian berpindah ke propinsi lain pada tahun berikutnya. Hal ini, lagi-lagi terkait dengan kurangnya perhatian dari pemerintah pada atlit. Mereka hanya menjejali kita dengan slogan-slogan nasionalis tapi tidak memberika penghargaan yang setimpal. Wajar, kalau pada akhirnya mereka menjadi semacam kutu loncat, yang tak loyal pada tempat dimana dia dilahirkan.

Saya kok tidak percaya kalau negeri ini sangat miskin. Hingga tak punya uang untuk membina atlit muda atau memberikan cukup kontraprestasi pada atlit-atlit tua. Yang saya curiga, negara ini saja yang tak punya iktikad baik untuk melakukan dua hal tadi.

Ah, saya jadi punya kekhawatiran. Bagaimana kalau anak saya kelak tiba-tiba bercita-cita ingin menjadi seorang atlet? Jawaban apa yang harus saya berikan pada mereka? Sementara saya tahu, atelt yang muda merana, dan yang tua pun, untuk bisa dipuja, harus melalui proses yang (terlalu) luar biasa.

One Comment Add yours

  1. Abdee says:

    Atlit yang pindah propinsi ….. menurutku sudah hukum pasar. Ada permintaan dan penawaran. Ada uang ada barang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s