The Real Lembaga Pendidikan

Setelah memutuskan untuk concern di bidang akademik, saya mulai berpikir mengenai kapitalisme yang kian kental mewarnai kampus-kampus tempat saya mengabdi. Pertama, tentu saja kampus UGM, logika “uang” menjadikan kualitas input di tempat ini makin tidak karuan. Tak jarang saya menemui mahasiswa-mahasiswa yang kehilangan “ruh” kuliah. Yang kuliah hanya karena tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Hanya karena trend. Hanya karena merasa tak tahu lagi bagaimana caranya menghabiskan uang orang tua. Kuliah bukan untuk kuliah. Bukan lagi untuk peningkatan status seperti orang-orang zaman dulu. Bukan lagi tangga untuk memperbaiki kehidupan. Dan sebagai akibatnya, esensi dari kuliah itu sendiri makin tidak jelas.

Semua itu bisa dilihat dari ketidakdewasaan mereka dalam bersikap. Mindset mereka yang selalu ingin serba instant, tak mau repot dan cheerleader complex.

Menurut saya, barangkali bukan mereka yang salah. Dunia, mungkin memang sudah berubah. Justru disinilah seharusnya, peran saya, dan para akademisi lainnya harus lebih memperoleh ruang. Tantangan bagi institusi pendidikan seperti UGM adalah membuktikan dirinya sebagai the real lembaga pendidikan, yaitu institusi yang berprinsip bahwa apapun input-nya, output-nya akan selalu bagus, selalu optimal, selalu istimewa.

Memang, tugas itu menjadi kian berat bagi para praktisi akademik. Karena mereka harus bekerja dua kali lebih keras daripada ketika kualitas inputnya belum ditentukan dengan uang.

Atau, kita bisa saja tidak peduli. Dengan dalih “Ah, mereka sudah besar ini. Harusnya sudah bisa berpikir sendiri“. Tapi mampukah kita? bisakah kita?

Anda mungkin iya, tapi saya tidak. Bagi saya, setiap orang punya kesempatan. Dan tugas kita adalah memastikan tersedianya kesempatan itu. Caranya bukan dengan penurunan standar (mentang-mentang mahasiswanya “ga nyampe” trus standarnya diturunkan) tapi dengan membuat mekanisme yang memastikan bahwa siapapun orangnya, dengan kemampuan yang bagaimanapun juga, akan tetap meraih tujuan seperti yang diharapkan. Karena jika standarnya yang diturunkan, saya khawatir pendidikan akan semakin kehilangan tajinya. Semakin dimaknai hanya sekedar mencari title, mencari gelar. Padahal, kata Bung Karno, pendidikan haruslah menjadi sumber kemakmuran dan kemajuan masyarakat kita seluruhnya, bukan menjadi lahan untuk mengejar diploma.

Meski, ya, harus saya akui, pada akhirnya semua akan tetap bergantung pada mahasiswa itu sendiri. Kalaupun mekanismenya sudah tersedia, tapi si mahasiswa sendiri yang memilih untuk abai, apa mau dikata?. Setidaknya saya sudah berusaha untuk memberikan kesempatan. Saya sudah mengajarinya ilmu mencari ikan. Soal mau diapakan ikan itu? saya (toh) tak bisa memaksakan.

3 Comments Add yours

  1. fickry says:

    ciye…yg akademisi..huehehe

  2. i will be the first to say, “i agree”!.

  3. tya oke says:

    ohh ibu dosen. smg SEMUA pendidik bisa berpikir seperti ini. amiinn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s