Bayer, Jaminan Mutu!

Sebelumnya, perlu saya tegaskan bahwa ini bukan tulisan yang berniat untuk mengiklan, saya hanya meminjam tag line dari sebuah merk produk untuk mewakili kegelisahan saya yang akhir-akhir ini tengah dibuat gerah dengan aksi jaminan mutu.

Ya, setiap hal di Indonesia kini harus dijamin mutunya. Termasuk soal pendidikan.

Semua harus sesuai standar yang ditentukan.

Semua harus memenuhi quality assurance.

Memang sih konsep tentang penjaminan mutu yang marak digagas ini sebenarnya bagus.

Hanya saja masalahnya, siapkah kita dengan sistem seperti itu?

Punya modal awalkah kita untuk memastikan itu semua berjalan sesuai yang diharapkan?

Jangan-jangan, kita hanya terburu nafsu.

Mengejar sesuatu yang akarnya sebenarnya sangat kompleks, dan justru melupakan esensi yang sebenarnya.

Dalam pendidikan misalnya.

Segala hal tentang sertifikasi guru dan dosen, kemudian jaminan mutu, lalu quality assurance, tak jarang justru menjauhkan para akademisi dari fungsi yang seharusnya dilakoni. Beberapa waktu yang lalu, Bapak saya mengeluh tentang anak buahnya yang sibuk ikut penataran. Ikut seminar ini itu. Demi mengejar nilai untuk kemudian mendapatkan sertifikasi,dan lupa pada tugas dasarnya sebagai pendidik.

Boro-boro nyiapin bahan ajar, atau memikirkan metode pembelajaran, energinya sudah habis tersita untuk seminar dan penataran.

Sesampainya di sekolah yang ada cuma gelisah, lalu mengeluarkan kalimat standar:

“Ya, hari ini pelajarannya mengarang bebas”

Untuk apa ada jaminan mutu jika itu hanya membuat pendidikan menjadi kian carut cemarut?

Apa jadinya pendidikan jika kita terlalu sibuk dengan kemasan?

Sibuk dengan komoditi.

Sibuk dengan logika berjualan.

Pendidikan yang sesungguhnya tidak membutuhkan sertifikat, tidak memerlukan jaminan, jika saja orang-orang yang ada di dalamnya tahu esensi dari pendidikan yang sebenarnya.

Sedikit mengutip Ashadi Siregar:

Untuk mengaktualisasikan pendidikan yang bermutu, pertama-tama, pribadi-pribadi yang berada dalam institusi pendidikan yang ada dalam bangunan sosial Indonesia haruslah sudah bermutu. Baru setelah itu, institusi-atau dalam hal ini sistem-pendidikannya bisa bermutu.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah para praktisi pendidikan di Indonesia ini (termasuk saya) bermutu?

5 Comments Add yours

  1. Abdee says:

    Buyerrr….. Jaminan Mutu !

  2. davidmboys says:

    sebenernya semua berujung pada uang. ga dapat dipungkiri, mereka juga harus menghidupi keluarganya juga. jadi sertifikasi dikejar untuk minimal menaikkan penghasilan mereka.
    untungnya pak SBY kemarin janji tahun 2009 gaji guru naik jadi 2jt per bulan.(semoga ditepati!)
    sehingga diharapkan para pengajar bisa lebih fokus dan maksimal dalam mengajar!
    semoga gaji calon dosen juga dinaikkin! hehehe…

  3. akuhayu says:

    setuju Vid!!
    makanya, kesejahteraan guru dan dosen harusnya dijamin dulu
    biar ga perlu nyari penghasilan dg cara lain
    calon dosen ikutan naek juga?
    amiiinn
    hehehehe
    ^_^

  4. wib says:

    indonesia kan negara sertipikasi…

    open this if you don’t mind, hehe
    http://tehblackcurrant.wordpress.com/2008/05/22/14/

  5. tamba cibro says:

    bagaimana sifat dan kandungan unsur zat aktif pada produk anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s