Mall versus Pasar Tradisional: Berpikir Ulang tentang Kemerdekaan

Seorang bijak pernah berkata, “Jika Anda ingin mengetahui kebudayaan suatu daerah, datanglah ke pasar tradisional yang ada di daerah tersebut”.

Pasar tradisional memang tak ubahnya seperti “aquarium”, tempat dimana kita bisa melihat budaya-budaya yang kita miliki. Tawar-menawar, basa-basi serta beragam sentuhan humanis yang lain. Sayangnya, keberadaan pasar tradisional makin lama makin terpinggirkan, sejalan dengan menjamurnya mall-mall dan hypermarket. Pasar tradisional, terpaksa harus menyingkir ke belakang panggung, menjadi semacam budaya yang terlupakan.

Fenomena ini menurut saya merupakan akibat dari pergeseran budaya. Fakta bahwa kita tengah bertransformasi menjadi sebuah bangsa yang baru, mungkin adalah penjelasan yang paling masuk akal. Setelah 60 tahun lebih merdeka, wajar jika Indonesia mulai berkaca pada kebudayaan luar, yang lebih maju, lebih modern, atau lebih-lebih yang lain. Salah satunya adalah dengan membangun beraneka ragam mall, hypermarket, minimarket dan market-market yang lain.

Tak ada yang salah. Keberadaan mall dan teman-temannya barangkali hanya memberikan alternatif berbelanja yang lain. Seperti kata Andrea Sentani (Telisik Volume 3), tantangan-tantangan terhadap kemajuan zaman bisa dilihat sebagai proses evolusi yang sewajarnya terjadi. Guncangan-guncangan pada pemikiran kita yang telah lama mapan bisa jadi hadir untuk memberitahukan bahwa cara-cara lama sudah tidak tepat lagi. Hypermarket dengan cerita-cerita di baliknya, hanyalah sebuah pertanda bahwa kehidupan memang terus berubah, dan cara terbaik dalam menyikapi perubahan adalah dengan melebur ke dalam perubahan itu sendiri.

Namun, apakah mengacu pada konsep pasar yang tidak asli Indonesia, merupakan cara yang efektif untuk berubah? Dengan adaptasi terhadap kebudayaan barat yang sedemikian hebat, jangan-jangan kita justru sedang memberi kesempatan kepada mereka untuk kembali menjajah. Bukan secara fisik, tapi lebih pada penanaman nilai-nilai, tentang baik dan buruk, tentang benar dan salah, tentang nilai secara keseluruhan. Semacam kesempatan untuk menginjeksi kita dengan nilai-nilai barat yang bukan pada tempatnya.

Menurut saya, Indonesia memang harus berubah, tapi berubah dalam konteks Indonesia. Artinya, berubah sesuai nilai-nilai yang kita miliki. Tidak begitu saja menerima pengaruh dari luar. Keberadaan pasar tradisional harus tetap dipertahankan. Tidak semata-mata karena pasar tradisional adalah “aquarium”, tetapi juga karena banyak nyawa yang dipertaruhkan disitu.

Sebelum kehadiran Hypermarket, pasar tradisional telah memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sehingga, kalau memang keberadaan mereka akan disejajarkan, berilah fasilitas-fasilitas yang memadai, agar mereka tidak saling menjatuhkan. Siapa yang bertahan ketika krisis ekonomi? Mereka! Siapa yang tetap menjalankan proses pertukaran dan transaksi ketika pengusaha-pengusaha besar brangkut? Pasar tradisional! Jadi, pembangunan dan pemberian fasilitas kepada pasar tradisional hanyalah semacam pembalasan budi yang wajar. Meminjam istilah Arswendo: semacam kesetiaan untuk tidak ingkar pada asal mula.

Jadi, mungkin kita belum sepenuhnya merdeka. Mungkin kita belum menghirup udara kebebasan yang sebenarnya. Karena kebebasan tak lain adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik, dan yang terjadi di kita justru kehilangan orientasi mengenai kebebasan itu sendiri.

Kita sibuk melihat ke luar, sibuk merias diri, tapi lupa pada makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Budaya yang adi luhung harus rela digeser dengan budaya yang adaptif. Pancasila yang katanya sakti nyatanya tunduk pada komersialisasi. Kita hanyut dalam perubahan. Akibatnya seperti kehilangan identitas. Kehilangan “KTP”, sehingga tidak tahu lagi jati diri, asal muasal, dan lain sebagainya. Itukah cita-cita pahlawan yang gugur pada 10 November di Surabaya? Mati pada Serangan Umum Satu Maret? Atau terbaring di antara Karawang-Bekasi? Saya rasa bukan.

Sekarang baru pergeseran budaya pasar tradisional yang kita alami. Besok mungkin kita akan menemukan budaya lain yang terlupakan. Lusa mungkin semakin banyak budaya bangsa yang kalah. Kalau kita terlambat menyadarinya, saya takut bangsa ini akan kehilangan jati dirinya. Menjadi bangsa yang terlalu adaptif terhadap kemajuan zaman. Menjadi bangsa yang hedonis terhadap budaya luar dan lupa pada kebudayaannya sendiri

Memang, pada akhirnya semua berpulang pada bagaimana kita memaknai perubahan. Yang jelas, berbicara tentang realitas sudah pasti berbeda dengan idealisme. Perubahan zaman yang terjadi, terkadang menuntut lebih dari sekedar konsekuensi. Pergeseran budaya yang membuat pasar tradisional tergusur, hilangnya identitas bangsa, serta penjajahan semu, hanyalah segelintir dari sekian banyak hal, yang mungkin tanpa kita sadari, telah kita korbankan untuk satu istilah: Perubahan Zaman.

3 Comments Add yours

  1. ceritasenja says:

    bukan tak mungkin pasar tradisional menjadi “museum hidup” yang hidup segan mati pun tak mau

  2. akuhayu says:

    hmm, iya juga siy, makanya harus ada langkah kongkrit utk “menyelamatkannya”
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s