Yang Penting Keren

Lebaran lalu, saya dikejutkan oleh penampilan salah satu sepupu saya yang duduk di bangku kelas 6 SD. Dia tampak mirip dengan Aris, si pengamen yang belum lama ini menjadi “Idola Indonesia 2008“. Terutama kemiripan dalam cara dia berpakaian. Celana pensil yang pasti susah dilepas, kemeja ketat kotak-kotak yang mungkin agak bikin sesak nafas juga, dan ikat pinggang dengan replika kotak kaset di bagian tengahnya. Selain mirip Aris, sepupu saya itu juga jadi mirip Ksatria Baja Hitam yang memang punya ikat pinggang dengan tombol tertentu–biasanya untuk merubah diri–di tengah.

Waktu saya bertanya, “Kenapa e, kamu beli ikat pinggang itu“, dia cuma cengengas-cengenges dan menjawab “Kan biar keren“, katanya sambil mencoba menjabrikkan rambut ikalnya dengan gel.

Otak fungsional saya merespon jawaban itu dengan sedikit heran. Biar keren ???

Bagi saya, setiap barang (harus) memiliki nilai guna. Kita memakai kacamata, karena memang kita membutuhkan alat bantu untuk menjernihkan penglihatan. Kita mengenakan baju tertentu, karena memang kebutuhan kita akan baju tersebut.

Tapi ternyata, selain sepupu saya, di luar sana banyak yang juga ingin merasa keren. Tentunya dengan mengenakan hal tertentu atau bergaya tertentu.

Ada yang membiarkan jidatnya berjerawat, hanya karena ingin merasa keren selayaknya artis dengan membiarkan separo rambutnya tergerai menutupi wajah. Ada yang membawa plastik kemana-mana, hanya karena ingin bisa melepas/menggulung celana jeans berujung sempit yang dianggap sedang tren. Ada yang rela kulit tangannya belang, hanya karena ingin mengenakan hand band dengan merek kesayangan.

Iya siy, saya juga kerap mengenakan sesuatu bukan (hanya) karena nilai fungsinya. Saya masih suka membeli barang dan sesuatu hanya karena barang dan sesuatu tersebut berwarna biru. Sangat tidak rasional memang. Tapi, seingat saya, saya belum pernah memakai sesuatu hanya karena ingin merasa keren.

Saya tidak akan memaksa diri untuk memakai ikat pinggang berkepala kuda misalnya. Saya tak akan repot-repot membawa gel rambut kemana-mana untuk memastikan rambut saya tidak letoy. Saya juga akan berpikir ribuan kali sebelum memutuskan untuk mengenakan jeans sempit yang pasti merepotkan saat akan ke belakang.

Ah, saya memang tidak keren.

4 Comments Add yours

  1. wib says:

    untung aja gak ada orang yang pake ikat pinggang yang kepalanya bentuknya tipi…
    kan bisa gede banget, gimana bawanya coba???

  2. akuhayu says:

    hahahahaha ^_^, ono-ono wae..

  3. Abdee says:

    ya itulah korban mode.
    sialnya kadang berpakaian tidak mengenal tempat.
    layat pake celana bolong2.
    ya memang ndak ada larangan, tapi kesannya tidak menghormati keluarga yang berduka.

  4. akuhayu says:

    @abdee: iya, itu lebih parah lagi mas, ga tau sikon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s