Selamat Tinggal Media Informasi, Selamat Datang Media Narsis

Mulanya, media diciptakan untuk menjawab kebutuhan manusia akan informasi. Memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk mengetahui pengalaman-pengalaman yang terjadi di luar dirinya (Kovach dan Rosentiel, 2003). Hal ini berangkat dari keinginaan manusia untuk tahu semua hal, untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, tapi (tetap) memiliki keterbatasan untuk melakukan itu.

Manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di belahan dunia lainnya, kalau saja media tidak dicipta untuk “memotret” itu dan menyampaikannya ke khalayak.

Tapi itu duluuu (saya tulis dengan nada seperti yang ada di iklan)..

Diskusi saya dengan salah satu kelompok asistensi mata kuliah etika komunikasi beberapa waktu lalu menggugurkan semua konsep yang dulu digagas.

Dalam diskusi tersebut, salah seorang peserta diskusi menceritakan pengalaman magangnya di salah satu televisi lokal. Menurut ceritanya, apa yang menjadi pekerjaan televisi lokal tersebut hanyalah duduk berongkang-ongkang kaki (oke, ini hiperbola dari saya) sambil menunggu ada “panggilan” dari orang-orang yang memiliki “hajat” yang menginginkan “hajatan”nya tersebut diliput, dengan membayar sejumlah uang tentu saja.

Hal ini, awalnya bisa saya maklumi, karena saya sadar keterbatasan televisi lokal dalam hal dana dan modal. Tapi yang membuat saya merasa tiba-tiba ingin kayang dan berguling roll depan dan roll belakang (maaf, saya sedang lebai akhir-akhir ini) adalah fakta bahwa itulah satu-satunya hal yang dilakukan televisi lokal tersebut.

Pemberitaan mereka berkutat pada event centered news, dan mending kalau event-event tersebut memiliki nilai-nilai dan signifikansi di masyarakat (publik), berita-berita tersebut hanya memuaskan keinginan nampang dari para panitia kegiatan.

Akibatnya, kebutuhan dasar akan informasi, justru tidak dipenuhi oleh media tersebut. Mereka (baca: media) memang menjawab kebutuhan, tapi hanya kebutuhan dari segelintir orang, itu pun bukan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, tapi untuk menegaskan adagium baru yang marak akhir-akhir ini: aku tampil, maka aku ada.

Mereka semakin tidak bisa mengolah realitas sosial dalam kapasitasnya yang mandiri (seperti istilah Ashadi Siregar), tapi sibuk dengan realitas psikologis dalam bentuknya yang berupa talking news. Mereka hanya menyampaikan bahwa ada acara ini, disini, jam ini, dan sebagainya, tanpa mencoba untuk memberitakan peristiwa-peristiwa lain yang berupa informasi jurnalisme, dan menjawab hak personal masyarakat serta kepentingan mereka dalam ranah komunikasi publik.

Akhirnya, saya cuma bisa menyimpulkan, bahwa virus narsis tidak hanya melanda orang-orang bertelepon genggam yang sibuk merekam setiap adegan dirinya (baik sendiri maupun dengan pasangan), tapi juga melanda media. Media kini ikut diposisikan sebagai bagian dari pendukung narsisme itu tadi.

Dengan fakta-fakta tersebut, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk berkata: “Selamat tinggal media informasi, Selamat datang media narsis”.

10 Comments Add yours

  1. ceritasenja says:

    hehe, termasuk blog ku hay. media bernarsisnarsis diri
    btw, salam bwt mas ashadi ya ^-^

  2. akuhayu says:

    ya kalo blog mah emang media personal kali win
    jadi ga masalah (untuk membela diri yang sebenarnya juga narsis)
    ^_^
    oke, nanti kusampein..

  3. fickry says:

    Hidup narsisme!! ayo sodara sodara mari kita rayakan transformasi ini..huahahhaha…
    hidup blogger!!!!

  4. Zulfi says:

    Omong tentang asistensi Etikom..
    Kemarin hari selasa, mbak hayu malah sakit…

    Semoga cepat sembuh… (tapi, kykny udah sembuh ding… tadi udah kelihatan di kampus)

    Media narsis?? kalo infotainment itu udah narsis belum ya? artis2 diekspos sedemikian rupa, selain berita2 baiknya, seringkali juga aktivitas sosialnya juga dikejar2 terus..

  5. akuhayu says:

    hahahaha
    makasih
    iya, aku sudah sembuh, sudah berkeliaran kembali di kampus
    ^_^
    kalo infotainment mah, artisnya yang narsis
    hehehehe

  6. wib says:

    menurutku sie mereka bukannya pengen narsis. mungkin niat awalnya cuma pengen skalian promosi, walopun nayanginnya waktu acaranya udah slese, tetep aja, sapa tau ada sponsor yang liat trus tertarik trus ngasi duit, kan lumayan.
    nah si stasiun tipi ini kebetulan emang butuh duit buat kehidupan dan kesejahtraan karyawan, ya udah, mutualisme kan, maka ditanda tanganilah surat kontrak kerja, haha…

  7. talkingtoomuch says:

    mbak hayu,,,yang kamu omongin tu si itu ya??
    yang sering ikut asistensi cinta bareng me and the gank!!
    ya ngga mbak???ato bukan ya???ya udahlah ga penting!!!
    kalo dibilang narsis terlalu berlebihan ah mbak!!!
    mungkin lebih pasnya adalah promosi diri….
    kan kalo narsis kesannya gimana banget gitu….
    hehehe…aku sok tau ya mba????
    ya uda deh….

  8. akuhayu says:

    apa sih? jangan GR.. bukan itu kali
    ^_^

  9. abdi m.rizal says:

    lha emang media klo bukan buat narsis buat apa?
    jurnalisme kan sebenarnya kata lain buat narsis…
    ya toh….
    contoh: selalu ada credit dalam setiap tulisan (mau berapologi sebagai bentuk tanggung jawab?)
    klo kata kiekergaard (semoga tak salah mengeja), manusia bereksistensi dalam bentuk sekecil apapun…
    nah loh…
    narsis itu lahiriah sejak jaman azali
    (klo yang kamu maksud narsis itu menonjolkan diri seperti tulisanmu)
    nah loh…

    btw tentang realitas sosial…..emang ada ya?
    nb : klo kata pakne, tatkala tuhan berwahyu pun dia mengenalkan diri…berkali-kali malah
    apa tuhan juga narsis?

  10. akuhayu says:

    @abdi m. rizal, ehm, eksistensi kan ga harus narsis Di, emang siy, kadang kita punya kebutuhan yang besar untuk “nampang” atau minimal diketahui orang lain, media boleh-boleh saja menampung itu, tapi kupikir ada baiknya mereka tidak melupakan kewajiban dasarnya..
    Lagipula, yang kumaksud narsis disini bukan (hanya) menonjolkan diri (atau mengenalkan diri), tapi lebih ke ketika orang sibuk dengan kemasan, berlomba untuk terkenal, tanpa mengidahkan kualitas di dalamnya atau bahkan fungsi keberadaannya
    ya, mungkin perspektif kita melihat hal ini sudah berlainan
    sah-sah saja kan?
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s