Ornamen vs Monumen

Kalau Ashadi Siregar membaca tulisan ini, maka dia akan tahu bahwa sayalah “plagiator”nya yang sejati. Judul di atas ini merupakan kata-kata dari Bang Hadi (begitu dia biasa disapa) yang dia lontarkan akhir minggu kemarin sewaktu saya menuju kelas Etika Komunikasi.

Selain dua kata tersebut, saya juga kerap mengutip Bang Hadi disana-sini. Baik berupa ide, pemikiran, maupun sekadar guyonan. Memang benar kata Randy Pausch. Cara termudah terlihat pintar adalah dengan membeo kata-kata orang pintar. Ya seperti yang saya lakukan selama ini dengan “petuah-petuah” Bang Hadi. ^_^

Saya jadi berpikir, untuk merumuskan sebuah pekerjaan baru, yaitu mentranskrip pemikiran orang-orang pintar dan menuangkannya dalam tulisan (karena asumsinya, orang pintar tersebut cukup sibuk, hehehehe). Ah, sepertinya menyenangkan.. (ada yang tertarik?)

Baiklah, kembali ke soal ornamen vs monumen..

Jadi begini, menurutku (tentunya dengan berpijak pada lontaran kalimat Bang Hadi), dalam hidup, kita akan bertemu dengan dua hal, yang bisa jadi merembet ke dua prinsip, yaitu: ornamen dan monumen.

Ornamen biasanya terkait dengan sesuatu yang kasat mata. Sesuatu yang indah, sesuatu yang banal (aku sedang suka kata ini ;p), sesuatu yang tampak di indrawi kita. Sesuatu yang biasanya ditujukan untuk merias dan menghias sesuatu yang lain, tanpa memperhatikan benar apa yang sebenarnya dihias atau dirias itu.

Sementara monumen adalah sesuatu yang biasanya digunakan untuk mengingat, mengenang dan mempelajari sesuatu, minimal tentang masa lalu. Monumen kadang juga dihias sedemikian rupa. Dibangun dengan dana berjuta-juta. Dibikin wah, dibuat mewah. Apalagi kalau disertai keinginan untuk mendoktrin sesuatu. Tapi satu yang penting dan selalu terkandung dalam monumen adalah ilmu. Baik dalam bentuknya yg berupa sejarah atau karya.

Intinya, perbedaan mendasar antara ornamen dan monumen adalah something behind, sesuatu yang ada dibalik sesuatu. Sesuatu yang bisa diwariskan. Sesuatu yang bisa menjadi penegasan bahwa ilmu itu ada dimana-mana: knowledge is in the air..

Lalu, samar-samar saya ingat kalimat penutup bang Hadi pagi itu:
Kalau di institusi pendidikan seperti ini, monumennya ya buku..

Ah, saya semakin semangat untuk menulis, tentunya tulisan yang semoga tidak hanya terhenti menjadi ornamen tapi juga bisa jadi monumen..

2 Comments Add yours

  1. karenanya: menulislah untuk keabadian
    *halah aku juga ikutan mbeo hay*
    hehe

  2. akuhayu says:

    @ ya, ya, kita kan sealiran win.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s