Polusi Iklan

Anda pernah tidak, berada di jalan raya dan merasa diri Anda dijejali dengan begitu banyak polusi iklan?

Kalau saya, iya, sudah lama saya merasakannya..

Begitu banyak iklan yang terpampang di jalan-jalan yang saya lalui setiap hari. Baik yang berupa baliho, spanduk, atau sekadar leaflet tertempel di pohon. Lalu ditambah iklan-iklan yang dicat di bus, andong, becak, dan akhir-akhir ini tembok rumah.

Sejujurnya saya salut dengan kreativitas para pemasang iklan dalam menemukan “celah” untuk menempelkan iklannya. Tapi yang membuat saya agak jengkel adalah, iklan-iklan tersebut telah menyesaki saya dengan terlalu banyak informasi berkata kunci: Beli!

Iya, saya tahu, saya bisa mengatasinya dengan mengabaikan atau menutup mata saya. Tapi saya tidak sepenuhnya bisa melakukan dua hal itu karena beberapa alasan:

Alasan pertama, proses resepsi terhadap pesan (dalam hal ini iklan) berjalan secara taking for granted. Saya memang bisa saja mengabaikan isi pesan tersebut, tapi otak saya (secara tidak saya sadari) akan tetap menerima dan memproses pesan yang ada karena kemanapun mata saya menuju, selalu ada iklan yang tertempel disitu. Tidak ada ruang yang tersisa bagi mata saya untuk melepaskan diri dari para perayu produk tersebut.

Alasan kedua, saya tidak mungkin menutup mata saya ketika sedang mengendarai sepeda motor. Saya kan bukan Dedy Corbuzier. Bisa-bisa, saya malah jatuh.

Alasan ketiga, jiwa saya terlanjur gelisah dengan iklan-iklan itu. Apalagi ditambah fakta bahwa iklan-iklan seharusnya tidak ditempel di pohon jika menyebabkan kerusakan atas pohon itu sendiri (saya lupa peraturan apa yang mengaturnya, tapi yang jelas ada peraturan yang mengatur ini).

Ya, ya, ya, saya tidak bisa menyalahkan pihak manapun. Segala hal yang menyangkut realitas simbolik di alam pikiran manusia, memang hanya etika yang bisa mengaturnya. Sayangnya, saya tidak tahu apakah para pemasang (bukan pembuat) iklan tersebut masih memedulikan etika, kalau orang mati saja masih mereka “kejar-kejar” dengan iklan (bisa dilihat di iklan operator seluler yang terpampang di atas tanah pekuburan di sebelah timur Jalan Affandi ( dulu Jalan Gejayan)).

4 Comments Add yours

  1. hay, itu deket rumahku!!!
    hahahaha, risi beneeer mengingat iklan M* nongkrong diatas kuburan.

    ah, selama para ‘penjual mimpi’ itu masih dicari oleh para konsumennya, mereka akan tetep melancarkan aksinya.
    pffh

  2. akuhayu says:

    @sekelebatsenja: lhoh, ternyata deket rumahmu tho? selamat deh win kalau gitu, tiap hari dibayang2i iklan,hehehehe

  3. cah sulang says:

    iklan juga bikin bahaya juga mbak,iklan2 raksasa dipinggir jalan itu sering bertumbangan diterpa hujan angin dan menimpa apa saja dibawahnya,jadi hati-hati saja…

  4. sanggita says:

    Memang para pemasang iklan itu dibayar supaya terjadi brand awareness atas produk/jasanya di mata konsumen. Tapi ya memang kebangetan tenan kalo sampai masang di kuburan ya, Yu. Resiko hidup di kota kali ya. Seingatku, ga ada polusi iklan tuh waktu KKN di Gunung Kidul…

    *yang terus-terusan didesak untuk kompromi dengan keadaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s