Manusia Indonesia

Mochtar Lubis, dengan fakta-fakta yang dia peroleh, sempat menggemparkan semua orang dengan konsepsinya mengenai manusia Indonesia.

Saya sendiri tidak ingat persisnya, bagaimana rumusan manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis. Tapi, kalau boleh sedikit lancang, saya akan menambahkan beberapa hal yang mungkin merupakan rumusan baru bagi manusia Indonesia.

Yang pertama adalah, manusia Indonesia itu, makin hari makin tidak rasional, ini bisa dilihat dari tontonan, sikap, gaya dan kelakuan sebagian besar kita yang makin irasional.

Kedua, sangat kreatif. Hitung saja jumlah film dan lagu-lagu bajakan yang ada di Indonesia. Lihat juga betapa cepatnya kita meniru apa yang sedang trend di tempat lain dan membawanya ke negeri ini.

Ketiga, survivor sejati. Hanya manusia Indonesia yang bisa bertahan di tanah gersang dan tandus. Tetap bisa makan meski hanya dengan daun-daunan tidak jelas dan umbi-umbian. Hanya manusia Indonesia yang tetap menjual gudangan/urap dengan harga Rp. 500 ketika krisis global melanda dan dolar mulai menembus angka Rp. 12.000. Manusia Indonesia juga, yang pelan tapi pasti bangkit dari bencana meski harus bertemu dengan bencana baru (misal bencana gempa pada mei 2006 yang diikuti dengan bencana janji palsu 35juta).

Keempat, mudah membenci, sekaligus mudah memaafkan. Masih ingat? betapa muak dan bencinya masyarakat kita ketika Suharto lengser pada tahun 1998. Tapi ketika Suharto mati, barisan ibu-ibu berjejer dan berjubelan untuk melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Tak sedikit yang menangis dan mendoakan. Mungkin ini akibat doktrin 32 tahun, atau mungkin adalah bukti, betapa tulusnya rakyat negara ini.

Terakhir, manusia Indonesia, menurut saya, lebai atau berlebihan. Jika bereaksi atas sesuatu, selalu lebih, selalu heboh. Kalau ada diskonan, heboh, ada gratisan, heboh, tidak peduli kita tidak membutuhkan benda gratis atau diskon tersebut, asal gratis atau diskon, kita pasti berebut untuk mendapatkannya.

Hal yang sama juga terjadi ketika Obama dicalonkan (hingga akhirnya ditetapkan) sebagai Presiden AS yang ke 44. Indonesia luar biasa heboh, semua media menjadikan berita itu sebagai headline. Koran Tempo menuliskan kata “Bravo!” di halaman depan. Lengkap dengan ulasan-ulasan detail mengenai Obama di setiap halaman. Kompas memasang foto besar hampir setengah halaman dengan tulisan “Obama Menang”, dan tak ketinggalan Kedaulatan Rakyat menyebut Obama, sebagai sejarah baru di AS.

Saya tidak memiliki sentimen tertentu dengan Obama, saya juga suka dia terpilih menjadi presiden berkulit hitam pertama di AS. Yang saya keluhkan hanya reaksi kita yang menurut saya, berlebihan. Tak perlulah kita sampai mengulas dia berkali-kali, mengundang mantan guru, teman, atau tetangganya untuk berbicara di televisi, hanya karena dia pernah tinggal sementara waktu di Indonesia. Tak perlulah kita bersuka-cita dan sibuk dengan euforia serta harapan-harapan yang kita ciptakan sendiri, dan lupa pada beberapa rumah yang kini terbenam banjir (padahal mereka juga perlu memperoleh porsi yang memadai dalam pemberitaan).

Saya lebih suka melihat ini sebagai informasi bahwa Obama menang, titik. Perkara dia akan mengubah dunia atau tidak (mengingat AS menganggap dirinya negara adidaya yg punya pengaruh di seluruh dunia) itu bukan urusan yang perlu kita risaukan. Saya tahu, akan ada implikasi atau konsekuensi dari kemenangan Obama bagi Indonesia, sedikit atau banyak. Tapi, saya yang bukan ahli politik, ekonomi, atau semacamnya ini merasa bahwa kehebohan ini cukup keterlaluan. Apalagi dengan adanya kecenderungan bahwa bangsa ini mulai menggantungkan harapannya pada kenangan masa lalu Obama tentang Indonesia.

Saya mengamini salah seorang narasumber yang dihadirkan TV One pagi ini, bahwa bagaimanapun, Obama bukan sinterklas, bukan satrio piningit yang dikirim untuk membawa perubahan atas bangsa ini.

Bagi saya, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin kita masuk surga keculai diri kita sendiri. Begitu juga Indonesia, tak ada seorang pun yang bisa menjamin perbaikan dan perubahan bangsa ini, kecuali bangsa ini sendiri.

Jadi, ayolah, biarkan saja Obama menang. Bahwa itu bisa sedikit “membantu” kita, syukuri dalam hati saja. Tak usah bersuka cita dan menangis terharu. Masih banyak hal lain yang membutuhkan air matamu.

6 Comments Add yours

  1. hahaha, bener hay!
    berle a.k.a berlebihan. emang, setelah obama muncul tibatiba orang2 indonesia berbondongbondong merasa dekat sama tokoh satu itu,
    namanya juga indonesia, ya nggak hay?hehehe

  2. akuhayu says:

    @sekelebatsenja: yoa, padahal obama-nya sendiri, di biografinya, ga nyebut indonesia sama sekali, hahahahaha

  3. sofyanr says:

    Aku tambahi. Orang Indonesia sulit menghargai diri sendiri. Pemimpin negara lain yang jauhnya ribuan kilo dielu-elu, sementara para calon pemimpin negeri sendiri di caci maki. Semut diseberang lautan bisa kelihatan, gajah dipelupuk mata tak tampak.

  4. akuhayu says:

    hahahaha
    setuju mas
    ^_^

  5. AgusDemak says:

    Itulah Indonesia… (sambil menirukan lagu)

    1. Hayu Hamemayu says:

      prok..prok..prok ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s