Dimana letak Jogjakarta?

Sewaktu kecil, saya mempunyai masalah dengan peta. Saya susah membaca letak suatu tempat dan menentukan arah dimana tempat itu berada. Saya selalu ngeles bahwa ketidakmampuan saya itu karena bakat saya memang di IPA (meskipun pada akhirnya dengan kesadaran penuh saya banting setir ke IPS ketika SMA).

Lalu ketika besar, saya memiliki penjelasan yang lebih ilmiah. Terutama setelah membaca “Why Men don’t listen and Woman can’t read a map“. Saya makin percaya bahwa dalam beberapa kasus, perempuan memang susah menentukan letak dan arah.

Namun, saya tidak punya masalah dengan menghafal nama-nama tempat. Saya tahu Balikpapan itu jelas bukan di Kalimantan Selatan. Saya juga tahu bahwa Pekalongan itu tidak di Sulawesi. Saya pikir pengetahuan-pengetahuan semacam itu tentulah pengetahuan umum yang semua orang tahu.

Tapi ternyata saya salah. Pengalaman saya ketika menonton acara televisi dengan beberapa teman (salah satunya adalah si Balada PNS) kemarin sore, meruntuhkan segala asumsi saya.

Sore itu, kami tengah menonton tayangan berita yang didominasi oleh acara penyembelihan hewan qurban. Tiba-tiba saya dibuat terkejut dengan sebuah berita tentang cacing hati yang menginfeksi beberapa hewan qurban. Bukan substansi beritanya yang membuat saya terkejut, melainkan lokasi peristiwa yang disebutkan, yaitu ada di Kulon Progo, Jateng. Spontan saya berkomentar “Kok Jateng?”. Kulon Progo, sejauh yang saya tahu adalah salah satu kabupaten yang ada di Jogjakarta.  Lalu temen Balada PNS saya itu menjawab “Wis biasa tho salah? (Udah biasa salah kan?)”.

Saya tahu, bahwa Kulon Progo barangkali bukan satu-satunya nama kabupaten di Jogjakarta. Mungkin ada daerah lain yang memiliki nama sama. Tapi konteks berita tersebut, lengkap dengan desa dan dusunnnya, menjelaskan bahwa yang dimaksud Kulon Progo disini adalah Kulon Progo-nya Jogja.

Kemudian tadi pagi, sewaktu menunggu hujan berhenti, saya kembali dikejutkan dengan pemberitaan yang menyebutkan sebuah peristiwa yang berlokasi di Jogjakarta, Jawa Tengah. Parahnya lagi, dia menyebut dengan sangat yakin: “Sewon, Bantul, Jogjakarta, Jawa Tengah“, yang berarti Jogjakarta, menurut berita tersebut, adalah bagian dari propinsi Jawa Tengah.

Padahal, jelas-jelas Jogja merupakan propinsi sendiri, yang meskipun kecil punya wilayah dan pemerintahannya sendiri. Saya tidak habis pikir, ternyata pemikiran bahwa semua Jawa itu sama saja (dalam arti Jogjakarta dan Jawa Tengah itu satu propinsi) tidak hanya melanda gaya pergaulan anak muda Ibu Kota tapi juga merambah ke teknis pemberitaan.

Tulisan ini bukan refleksi atas sentimen saya sebagai orang Jogja. Saya hanya kecewa karena ternyata, untuk hal sesepele itu, media masih melakukan kesalahan yang tidak perlu. Kalau kita tarik ke konsep yang lebih tinggi, selain persoalan kultur, yang menganggap bahwa semua yang ada di luar Jakarta adalah Jawa, kasus ini juga menjelaskan persoalan akurasi dan jurnalisme buru-buru yang kerap menghinggapi media.

Saya tidak tahu apakah sewaktu kecil, para pembuat berita itu tidak pernah membaca buku sakti Rangkuman Pengetahuan Lengkap Umum (RPUL), atau mereka hanya terlalu abai pada persoalan-persoalan semacam itu. Saya juga tidak tahu, apakah wartawan yang bersangkutan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, sehingga saya tidak bisa menggunakan buku “Why Men don’t listen and Woman can’t read a map” sebagai acuan analisis. Satu hal yang saya tahu adalah saya tambah kecewa dengan media.

9 Comments Add yours

  1. sekelebatsenja says:

    di TV tadi pagi juga hay, masak jogjakarta itu dibilang jawa tengah!
    huuh..

  2. akuhayu says:

    iya, parah tho? nek tiviku dhewe wis tak banting (halah, berlebihan)
    ^_^

  3. Adhya says:

    Tapi kalo ceritanya “Rasa Almond dan Rasa Cappuccino” lain.. karna woman-nya yang read map dan man-nya yang listen instruksi dari si woman, “belok kiri Mas, belok kanan Mas…” hehehehe… karna si woman ternyata androginy! paling suka ke tempat-tempat baru dengan membaca peta sebelumnya… dan lebih suka bicara daripada mendengarkan🙂 smoga orientasi seksual masih normal!

  4. isdiyanto says:

    mungkin karena berdekatan kali ya…

  5. akuhayu says:

    @isdiyanto: iya mungkin, omong-omong, terima kasih sudah mampir..

  6. sanggita says:

    Yaks, parah banged…Salahnya terulang-ulang lagi.

    Hayo, yu. Bikin tipi sendiri ajah. Aku mau deh jadi host-na. Hehehe…

  7. akuhayu says:

    @sanggita: boleh juga tu mbak, tapi jangan serba psikologi semua ya
    heheheheheh

  8. Abdee says:

    Gubernur Ismail dulu pernah punya ide untuk memasukkan DIY sebagai bagian Jateng.

    Awalnya banyak orang DIY menentang, tapi belakangan banyak yang setuju dengan syarat Ibukota pindah ke Yogya.

  9. akuhayu says:

    @abdee: aku setuju pindahkan ibu kota, tapi bukan ke Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s