Seni yang tidak Seniningan

Seni yang Tidak Seniningan.

Judul ini berawal dari kenangan masa lalu saya dengan kakak laki-laki saya. Waktu itu dia sering memlesetkan, kata seniman menjadi seniningan. Seniningan adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang bisa juga disebut dengan ceniningan. Kata ini kurang lebih berarti aeng, nyleneh, atau unik.

Namun, seniningan juga bisa merujuk pada sesuatu yang ngawur, yang waton kalau dalam bahasa Jawa. Menurut kakak saya waktu itu, seniman itu tidak seniningan. Seniman justru mengikuti alur dan patokan yang disebut dengan seni itu sendiri.

Sayangnya, seni yang ada sekarang ini, meski saya bukan ahli seni, membuat saya sempat berpikir bahwa isinya terlalu seniningan. Misalnya lirik lagu yang isinya pisuhan (umpatan) semua, yang justru dianggap kreatif dan melupakan fakta bahwa anak-anak Indonesia kini menjadi konsumen lagu-lagu dewasa (karena mereka tidak punya lagu sendiri).

Atau lihat juga ketika beberapa orang yang tak paham koreografi mencoba menciptakan tarian tanpa unsur estetis sama sekali. Lalu dengan bangganya menyebut gerakan-gerakan ngawur itu dengan nama-nama tertentu. Misinya jelas, meningkatkan pamor dan undangan mengisi acara.

Dengan kenyataan tersebut, saya tidak bisa menghalangi diri saya untuk tidak berpikir, inilah seniningan yang dimaksud kakak saya sewaktu saya kecil dulu. Seniningan yang mengurangi kadar seni itu sendiri. Seniningan yang justru membuat seniman terasing dan tercerabut dari akar keindahan. Padahal bukankah seni harusnya menjadikan hidup ini indah, menjadikannya halus, menjadikannya penuh warna?

Lalu mengapa seni yang ada kini tak tentu. Lirik lagu tak lagi merdu. Tarian tak lagi memanjakan. Semua hanya mengejar seni yang bukan lagi seni, melainkan (hanya) seniningan.

6 Comments Add yours

  1. Abdee says:

    Karena kadang orang tak puas dengan apa yang ada, sehingga mencari bentuk2 lain yang menurut mereka baru dan mungkin tak lazim. Meski mungkin harus mengorbankan estetika.

  2. sanggita says:

    “…lirik lagu yang isinya pisuhan (umpatan) semua, yang justru dianggap kreatif…”

    Namanya juga seni. Itu masalah selera, masalah rasa. Mungkin begitulah mereka cara mereka merasa. Dan karena – ini my favorite quote – selera tidak bisa diperdebatkan, mungkin kita yang harus merekonstruksi cara melihat seni itu sendiri.

    Di sisi lain, bisa jadi seni yang seniningan itu malah menjadi pelengkap bagi seni yang – menurut kita – bernilai estetis tinggi.

    Seperti cara Gunawan Moehammad memandang “tatal” – sejenis kayu yang disusun dari serpihan-serpihan kayu lain dan dirampat ketam – sebagai sesuatu yang menopang Masjid Agung Demak—yang juga merupakan bentuk Supremasi Islam Jawa—yang agung nan megah.

    “Yang agung itu,” mungkin demikian GM berpikir, “ternyata juga dibangun dari sisa-sisa yang semestinya terbuang.”

    “Saya bayangkan: sebuah mesjid yang ditopang oleh yang terbuang, yang remeh dan yang tak bisa disusun rata—bukan sebuah rumah Tuhan yang berdiri karena pokok yang lurus dan kukuh, dengan lembing dan tahta.” (Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 9)

    *Halah, sok tau. Iki nyambung ra yo?!!

  3. akuhayu says:

    hehehehe, nyambung kok mbak, aku setuju bahwa rasa dan selera memang tidak bisa disamaratakan, tapi, ada juga selera yang berlaku secara umum, namanya common sense, dan kalau diukur berdasarkan common sense ini, kupikir lirik lagu yang misuh-misuh itu tetap tidak layak..
    (apalagi untuk anak-anak)
    ^_^

  4. budakdigital says:

    kok hanya mengupas tari dan lagu saja yak…senirupanya mana…
    seniningan kalo mnrtku mang perlu asal tidak melanggar norma juga kaidah” yg berlaku saja….untuk menciptakan kebaruan” dlm kesenian…harus nakal…walo kadang kenakalan itu pasti selalu di tentang…terutama oleh orang” tua……..seniningan…mngkin hanya keindahan estetika yg dipahami dgn perspektif yg berbeda saja…

  5. Sampai saat (yg saya dengar dan baca) generalisasi ttg seni (art) dan kebudayaan (humanities) blm dpt memuaskan semua pihak. Justru (menurut saya) hal ini perlu untuk terus diperbincangkan (dalam artian positif). Termasuk “anekdot2” yg terus bermunculan, semisal ‘seni dan seniningan’; ‘seniman dan senewen’; ‘kreasi dan kere aksi’; dll. Berbincang, berdiskusi, berdebat, maupun berolok ttg seni ibaratnya (menurut saya) sdh berpartisipasi untuk pelestarian dan pengembangan seni itu sendiri…. (walah embuh, Bu Dosen, saya koq malah jadi ‘senewen’ dhewe… Maap nggih, nyuwun idi palilah ‘blog hamemayu’ kepareng boten kepareng badhe kula ‘ling’ dhateng Kelir Online Ki Dhalang Sulang. Sembah nuwun.

  6. akuhayu says:

    monggo, dipun ling kemawon, gratis, heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s