Siapa Berhak atas Hak Cipta?

Perhatian saya atas hak cipta, awalnya dipicu oleh hal-hal yang personal.Β  Sekitar tiga tahun yang lalu, saya mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan tentang hasil karya/kreasi saya.

Ceritanya begini, pada suatu ketika, saya menulis tentang perasaan dan pengalaman diri saya di blog saya (lebih jelas lihat disini). Di situ saya menulis tentang ketidaknyamanan saya, tentang rasa yang tengah saya rasakan, tentang sesuatu yang terlintas di benak saya waktu itu.

Lalu beberapa waktu kemudian, tanpa saya sengaja, saya mengetahui bahwa seseorang yang tidak terlalu saya kenal tapi menjadi teman di situs jejaring sosial, telah mengopi tulisan saya tersebut tanpa menyebutkan nama saya sebagai penulis asli. Geram, marah dan jengkel, saya menulis lagi tentang kekecewaan saya tersebut disini. Rupanya dia (si plagiat itu) sadar dan langsung menghapus tulisan saya di blog-nya.

Apakah saya puas? tentu saja. Tapi ada hal lain yang mengusik perhatian saya setelah itu, yaitu tentang siapa yang sebenarnya berhak atas hak cipta dan sejauh mana sebuah tindakan bisa dikatakan sebagai plagiarisme. Mengingat, internet adalah dunia yang begitu cair, yang kadang sudah berada di luar kendali kita untuk memantau dan/atau “menjaga” karya yang sudah kita tuangkan di situ.

Sejak pengalaman itu, saya memang menjadi lebih berhati-hati, terutama terhadap karya-karya yang saya harap bisa diterbitkan suatu saat nanti. Saya pun lebih menjaga diri, untuk selalu memberi penghormatan (dalam konteks Hak Cipta kemudian disebut Hak Moral atau Moral right) terhadap satu patah kata pun, atau sekelumit ide pun, yang lahir bukan dari pemikiran saya.

Ini kenapa saya tak lupa mencantumkan siapa di balik ide rancangan undangan, siapa yang mendesain, dan siapa yang menulis puisi-puisi dalam undangan pernikahan saya. Semangatnya tentu bukan hanya soal kenarsisan tapi juga soal penghargaan, karena bagi saya, sebuah karya, sesederhana apapun, tak mungkin lahir secara sembarangan. Atribusi nama hanyalah sesuatu yang simple tapi bisa melegakan pihak yang namanya disebut, meskipun mungkin dia bukan pujangga besar atau tokoh yang terkenal.

Dalam kasus saya tadi, jujur saya tidak tahu apa motif di balik plagiarisme yang dia lakukan. Apakah karena orang tersebut merasa perasaannya terwakili oleh puisi saya, atau karena hal lain, saya tidak tahu. Satu hal yang saya tahu, tulisan tersebut–bagus atau tidak–adalah karya orisinil saya, harta saya, dan mengkopinya tanpa ijin sama artinya dengan mencuri harta saya.

Saya salut dengan beberapa rekan sesama blogger yang tetap menyebutkan nama saya ketika mengkopi tulisan saya ke blog mereka (seperti ini atau ini). Saya acungkan jempol kepada orang yang punya cukup nalar untuk bisa membedakan mana karya asli dia dan mana karya yang berupa pemikiran orang lain. Bahkan sekalipun sebenarnya hak cipta saya atas karya-karya tersebut telah diambil alih Kompas sebagai konsekuensi atas lomba yang saya ikuti, mereka tetap menyebutkan nama saya sebagai penulis aslinya.

Mulanya, saya berpikir bahwa plagiarisme terjadi karena kekurangajaran. Tapi setalah berkutat di dunia akademik, saya jadi lebih tahu, alasan-alasan apa saja yang membuat orang bisa melakukan plagiarisme. Pertama, ada yang memang benar-benar tidak tahu menahu perihal kutipan, perihal bagaimana mengambil tulisan orang lain dan “disisipkan” ke dalam tulisan sendiri. Ada mahasiswa yang tak bisa membedakan bagaimana mengutip mentah dan memparafrase. Ada yang tak mengerti bahwa sumber ide tulisan harus disebutkan. Kedua, ada yang tidak tahu tentang logika hak cipta. Bahwa itu melekat sejak kali pertama karya tersebut dipublikasikan dan logika publikasi, bukan hanya pada publik secara luas, tapi bisa juga di forum tertentu seperti seminar, FGD atau blog.

Bagi saya, urusannya bukan soal ganti rugi, atau pemanfaatan ekonomi atas suatu karya. Tapi lebih dari itu, karya bagi saya adalah proses kreasi yang membanggakan. Jadi ketika karya itu hadir, menyapa ruang maya Anda dan kebetulan Anda singgahi, silahkan nikmati isinya, barangkali bisa memunculkan ide, syukur-syukur bisa membangkitkan perasaan tertentu dalam diri Anda, tapi setelah itu, tolong jangan lupakan penulis aslinya.

5 Comments Add yours

  1. fickry says:

    itulah yu…namanya jg dunia maya… kan UU nya sdg dirancang….

    *menunggu kunjungna balik..gyahahaha… plak..*

  2. Wow! Kali ini ‘lakone’ SRIKANDI GUGAT…. ya ya ya, saya ikut mendukung “pangudarasa” Panjenengan ini. Mudah2an bangsa kita yang ‘kondangnya’ menjunjung tinggi etika, benar2 mampu beretika, khususnya menyangkut hak kekayaan intelektual seseorang. Salam tetap semangat, nggih Bu Dosen.

  3. akuhayu says:

    Ki Dhalang: hahahaha, iya ini Ki, kalau kata anak sekarang, ini curhat colongan, terima kasih untuk dorongan semangatnyaπŸ˜‰

  4. wyw1d says:

    Saya sependapat dengan Bu Dosen.Sangat sependapat.Tapi karena di sini dunia maya yang masih “remeng-remeng” maka kita tidak bisa melakukan tindakan”nyata” terhadap plagiat.Untungnya sang plagiat itu segera menyadarinya.Dia sudah minta maaf kan Bu?

  5. akuhayu says:

    wywid: tidak ada pertanyaan tertulis sih, tapi minimal dia sudah menghapusnya dari blognyaπŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s