Mengukur Mental Melalui Metal

Akhir-akhir ini, saya merasa miris setiap kali menyalakan kotak televisi di kamar saya. Bukan, bukan karena televisinya, bukan juga karena kamar saya, tapi karena isi yang disampaikan oleh kotak ajaib tersebut. Terutama ketika mereka menyiarkan berita mengenai Jembatan Suramadu yang diresmikan beberapa waktu lalu.

Bagaimana saya tidak miris? Baru beberapa hari sejak jembatan tersebut mulai dioperasikan, mur, baut dan segala macam bentuk metal (besi) yang ada telah (hampir) habis diambil manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Apakah orang yang mengambil metal-metal tersebut tidak berpikir, bahwa tindakannya tersebut bisa membahayakan orang lain, dan tidak tanggung-tanggung, yang dibahayakan disini adalah nyawa manusia.

Barangkali, orang-orang yang mengambil metal tersebut merasa bahwa benda-benda kecil itu tak berguna. Maka mereka merasa boleh mengambil metal-metal tersebut. Apalagi harga besi-besi tua ternyata mahal jika dijual. Saya sudah mengkonfirmasi ini kepada pemulung yang sering mampir rumah saya, dia membenarkan bahwa besi itu memang mahal harganya. Tapi apakah harga yang mahal tersebut bisa menjadi pembenaran bagi sesorang untuk memunculkan peluang orang lain celaka?

Pencurian besi tidak hanya terjadi di Jembatan Suramadu, tapi juga di sepanjang rel kereta api yang ada di Indonesia. Saya tak habis pikir, darimana mereka mendapatkan ide untuk mempreteli rel kereta api? Tidakkah mereka tahu, berapa banyak jumlah kecelakaan transportasi yang terjadi di Indonesia tanpa harus ditambahi dengan kecelakaan yang disebabkan karena rel yang dicuri besinya.

Saya jadi memiliki kesimpulan baru, bahwa ternyata, metal bisa digunakan untuk mengukur mental sesorang. Mental macam apa yang dimiliki oleh orang yang membiarkan orang lain terancam bahaya? Mental macam apa yang dimiliki seseorang yang hanya berhasrat merusak? Tentunya bukan mental yang bisa dibanggakan.

Saya tahu, bahwa bisa jadi, ini semua terjadi karena kemiskinan yang sedemikian akut, atau ketidaktahuan bahwa tindakan tersebut beresiko besar, bukan bagi diri si pelaku, tapi diri orang lain. Tapi apapun itu, saya tetap merasa bahwa metal, secara sederhana, bisa menentukan mental seseorang. Karena saya yakin, mental yang baik, setidaknya akan membuat orang berpikir panjang dan memikirkan segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s