“Dikejar-kejar” Pemilu

Pemilu Legislatif yang berlangsung beberapa bulan lalu, menyisakan satu perasaan untuk saya, yaitu saya merasa dikejar-kejar Pemilu. Dikejar-kejar untuk menggunakan hak pilih, seolah saya tidak berniat memilih saja (memang tidak terlalu berminat sih sebenarnya ;)).

Sewaktu saya melakukan transaksi melalui ATM sehari sebelum hari pencontrengan tersebut, bagian bawah dari print out yang saya terima bertuliskan “Sukseskan Pemilu 9 April 2009”. Lalu pesan di handphone saya seminggu sebelumya juga berisikan teks yang sama. Waktu itu, saya sempat heran, jangan-jangan aura apatisme terhadap pemilu legislatif tersebut begitu pekat, sehingga ratusan langkah preventif dilakukan untuk mencegahnya. Ya melalui ATM, melalui handphone, dan tentu saja baliho-baliho yang terpampang di jalan raya.

Pesan-pesan yang terselip di account Facebook saya juga menyuarakan hal yang sama. Dari himbauan untuk jangan menjadi golongan putih (golput), golput tidak mengatasi masalah hinggap golput itu haram.

Lepas dari “teror” tersebut, bukannya lega, seusai pemilu legislatif, saya kembali dikejar-kejar tampang sumringah salah satu calon legislatif dari kota saya yang kebetulan memiliki kemungkinan besar untuk menang. Dia, dengan kalimat khas partainya menyapa saya, tanpa saya ingin, di setiap sudut kota yang saya lewati. Senyum palsu atau bukan, yang jelas saya mual melihatnya. Lebih mual lagi ketika berita tentang dia yang memasang ucapan terima kasih itu saya baca di koran. Aih, narsis nian. Tapi ya sudahlah, mungkin dia bahagia dengan caranya itu. Mungkin dia memang tulus mau berterima kasih kepada rakyat Jogja yang telah berkenan memilihnya.

Lalu kemarin, berbulan-bulan setelah pemilu legislatif berakhir, saya kembali merasa dikejar-kejar. Kali ini dikejar-kejar tiga pasang calon pemimpin negeri ini yang merasa perlu “merayu” saya untuk memilih mereka. Bukan hanya saat saya di jalan raya, atau tengah menyalakan kotak televisi, tapi juga saat saya tengah menonton film di bioskop. Waktu tunggu tayang yang biasanya digunakan untuk memutar trailer film-film yang akan beredar, justru diisi dengan iklan-iklan dari para calon presiden. Dari mulai “film pendek” tentang perjalanan salah satu calon hingga iklan berisi lagu tema calon tertentu. Lagi-lagi, saya kembali mual.

Sampai detik ini, jujur saya tak tahu harus atau mau memilih siapa. Bagi saya, perasaan dikejar-kejar itu sendiri sudah menimbulkan rasa yang tak nyaman. Perasaan yang membuat saya harus berpikir ulang tentang Pemilihan Presiden 8 Juli nanti. Jadi mari kita lihat saja, apakah semesta akan bekonspirasi untuk membuat saya tidak mencontreng (lagi).

2 Comments Add yours

  1. fickry says:

    hai hai….. aku nyoblos kali ini yay…

  2. akuhayu says:

    Fickry: aku gak (lagi), hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s