Teralienasi di Kampus Sendiri

Judul ini sebenarnya sudah pernah saya pakai ketika menulis sebuah Tajuk saat saya masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi sebuah media komunitas kampus beberapa tahun silam. Isinya tentang fenomena di UGM yang mau apa-apa saja harus meminta bayaran. Bahkan kepada mahasiswanya sendiri. Bayar parkir di KPTU Teknik berkedok ATM, bayar uang untuk pinjam peralatan, dan lain sebagainya. Sebuah situasi yang menurut saya, makin mengasingkan UGM dari mahasiswanya sendiri.

Rangkaian kalimat dalam judul ini kembali menghentak saya saat kabar pemasangan palang portal di pintu masuk boulevard UGM ramai mewarnai status facebook teman-teman saya. Ada yang bilang ini soal komersialisasi, ada juga yang bilang ini mengeksklusifkan diri. Seolah UGM tak lagi mau menjadi kampus kerakyatan, yang berarti ditandai dengan manunggaling (bersatunya) UGM dengan rakyat (bersatu disini berarti juga bersatu secara fisik)Dari sebuah koran, saya mengetahui bahwa pemasangan portal ini semata soal keamanan dan kenyamanan yang menjadi masalah akibat bercampurnya lalu lintas dalam kampus dengan lalu lintas umum di UGM. Jalan Kaliurang yang membelah UGM menjadi dua: kampus sayap timur (Fakultas Eknomi, ISIPOL, dkk) dan kamus sayap barat (MIPA, KU, Teknik, dkk), dianggap menjadi biang kerok permasalahan transportasi di UGM. Beragam solusi kemudain diretas, semuanya tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan Kampus (RIPK) yang seingat saya digagas mulai 2003 silam.

Saya mengetahui ini semua karena pada tahun 2004, saya pernah menulis sebuah laporan mendalam mengenai ruang hijau di UGM. Narasumber saya waktu itu kemudian membeberkan beberapa rencana terkait penataan ruang kampus, tak terkecuali soal transportasi. Solusi-solusi yang ditawarkan waktu itu antara lain: privatisasi Jalan Kaliurang (menjadikan Jalan Kaliurang sebagai milik UGM), pembatasan akses masuk UGM (dengan portal atau stiker tanda pengenal) pembuatan fly over dari kampus barat ke kampus timur atau sebaliknya, dan pembuatan kantong-kantong parkir di luar UGM untuk menjamin keamanan dan kenyamanan di dalam kampus.

Bagi saya, solusi yang terakhir terdengar sangat istimewa. Saya membayangkan akan menjadi bagian dari kampus yang sehat dan segar, tidak macet dan penuh kendaraan bermotor berlalu lalang. Para mahasiswa memarkir kendaraannya di kantong-kantong parkir yang disediakan di seputaran UGM kemudian menuju kampus menggunakan bus, berjalan kaki, atau bersepeda. Saya semakin senang saat beberapa waktu kemudian, sepeda hijau disosialisasikan di UGM. Saya mengira, bayangan kampus ideal saya sudah di depan mata.

Sayangnya, pada awal 2007, saat aya kembali membuat laporan tentang persoalan penataan transportasi UGM, masih belum ada kejelasan soal kelanjutan RIPK. Pupuslah niat saya untuk menikmati kampus ideal sebelum wisuda.

Lalu sekarang, saya tak menyangka bahwa solusi yang akan diambil adalah membatasi akses kampus dengan palang parkir di tiap pintu masuk UGM. Harusnya saya sudah menyadari hal ini sejak muncul kebijakan yang membuat akses ke kampus saya hanya bisa dilakukan melalui pintu timur, tidak bisa lagi melalui pintu barat dekat gedung rektorat. Tadinya saya kira, itu hanya soal penataan, tapi ternyata aktivitas-aktivitas pun mulai dibatasi. Tak ada lagi sekelompok pemuda bermain skateboard di depan Gedung Pusat. Tak ada lagi penjual yang boleh berjualan di depan boulevard, dan puncaknya, yang baru-baru ini terjadi: bayar parkir untuk bisa masuk ke UGM.

Ah, saya tak bisa membayangkan betapa teralienasinya mahasiswa UGM saat ini. Mau ke Masjid Kampus saja harus memutar dulu lewat bunderan. Tak bisa lagi lewat pintu belakang dekat Fakultas Filsafat. Itupun mereka dipaksa membayar (meskipun dengar-dengar ini hanya untuk mahasiswa kaya yang bermobil saja).

Saya jadi bertanya-tanya, kalau memang persoalan keamanan dan kenyamanan menjadi hal yang begitu krusial? kenapa harus palang parkir solusinya? Sementara kejadian setahun lalu, saat seorang mahasiswa dirampok di utara FISIPOL, menurut hemat saya, justru tak akan terjadi kalau para pegiat skateboard masih diperbolehkan beraksi di dekat kampus. Minimal, akan ada orang yang mendengar ketika dia berteriak minta tolong.

Memang, tak ada ceritanya kampus-kampus ternama–di luar negeri sekalipun–sedemikian terbuka seperti UGM. Tapi bukankah itu justru kekhasan yang harusnya dijaga dan dikembangkan oleh UGM agar menjadi ikon yang membedakannya dengan kampus-kampus lain?

Kalau benar yang diteriakkan teman-teman saya bahwa komersialisasilah yang sebenarnya menjadi inti kebijakan ini, saya hanya bisa menghela nafas dan sedikit bersyukur, setidaknya saya sudah lulus, sehingga saya tak perlu merasa teralineasi di kampus saya sendiri.

3 Comments Add yours

  1. fickry says:

    setubuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhh..

    sedih rasanya ya yu.. mo bangga yo piye meneh,,,

    anjisss bgt tuh yg punya kebijakan… arggggh..

  2. akuhayu says:

    makanya, ayo segera S2 Fik, hehehehe

  3. vanoskabut says:

    komersial kampussss…itu yg sedang terjadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s