Iklan Yang Saya Suka

Berhubung tidak ada satupun acara TV yang layak tonton menurut saya, maka saya jadi lebih suka memperhatikan dan menonton iklan. Mencoba menganalisisnya dari perspektif keindahan maupun melihat pesan yang hendak disampaikan. Berdasarkan pengamatan saya, ada juga iklan-iklan yang indah, baik secara isi (substansi) maupun tampilan (visual). Iklan yang tak hanya mementingkan satu kata yaitu: Jual!.

Pertama, saya mencatat iklan Susu Bendera ( Frisian Flag). Saya selalu suka iklan-iklannya, baik versi reguler—“selalu ada senyum dari generasi ke generasi”—maupun versi puasa yang “saling menguatkan”. Iklan-iklan tersebut menarik karena pesan yang disampaikan tak melulu soal “ayo minum susu”, tapi juga sesuatu yang lain yang muncul karena aktivitas minum susu tersebut: kebersamaan, persaudaraan, tawa. Mirip dengan iklan Sariwangi yang “Mari Bicara” tapi eksekusinya menurut saya, jauh lebih bagus iklan Susu Bendera ini.

Kedua, iklan Indomie versi Ramadhan, yang seolah menebus “kejelekan’ iklan versi kampanye yang ada sebelumnya. Saya suka musik dan visual iklan ini. Sangat menarik. Bukan tipe hard-advertisement yang biasanya memperlihatkan adegan makan mie, tapi lebih menekankan pda kekuatan lagu dan visual.

Ketiga, saya suka iklan sejenis coklat (saya lupa namanya) yang sangat menohok iklan pemutih wajah karena mengadaptasi gaya iklan mereka. Konyol dan menarik (meskipun tidak serta merta membuat saya berniat membeli produknya).

Keempat iklan Pepsodent versi “kebiasaan menyikat gigi dari kecil” dan “ayo kita perbaiki”. Selain karena pemerannya sangat pas, juga karena pesannya jelas. Iklan versi ini jauh lebih baik dari iklan Pepsodent yang “Ilmiah vs alami”.

Kelima, iklan Telkomsel versi sholat di Musholla terpencil di tengah hutan. Tidak banyak kata tapi pesannya justru sangat terasa.

Namun, selain iklan-iklan yang saya anggap bagus tersebut, tentu saja ada iklan-iklan jelek yang tak peduli soal keindahan dan kreativitas. Iklan-iklan ini (sayangnya) jumlahnya lebih banyak. Sebut saja, segala jenis iklan ketik Reg, Iklan cat tembok versi “tetangga yang tidak saling bertegur sapa hingga datang seseorang membawa cat”, iklan sepeda motor (kecuali Yamaha Vega karena didukung akting prima Dedy Mizwar dan Didi Petet), semua iklan produk kecantikan (yang selalu menginjekasi audiens dengan makna tunggal bahwa cantik itu putih, cantik itu mulus, cantik itu tanpa noda) dan masih banyak lagi.

Tentu saja, pendapat saya ini sifatnya sangat personal. Benar tidaknya sangat subyektif. Namun, satu hal yang mungkin bisa dicatat adalah betapa parahnya kualitas tayangan di televisi kita sehingga saya lebih suka menonton iklannya daripada acaranya.

2 Comments Add yours

  1. buratwangi says:

    iklan juga banyak yang multi tafsir, walau tujuannya cuma satu yaitu ” jual “, saya rasa memang sengaja dibikin sebuah kata atau kalimat yang selalu menjadi suatu pertanyaan agar orang sedikit merasa penasaran n menafsirkan macam2. sy gak tau apa itu cukup berhasil sebagai sebuah iklan atau gagal. Contoh iklan kayu putih cap lang, ada kalimat ” buat anak koq coba-coba ” entah anak jangan dijadikan bahan percobaan atau bikin anak cuma coba2, jadi syukur gak jadi juga gak apa-apa..he,he,he,

  2. akuhayu says:

    buratwangi: hehehe, iya, soal itu pernah saya tulis juga di tulisan saya sebelumnya, judulnya inefisiensi iklan, omong-omong terima kasih sudah mau mampir, salam kenal..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s