SEA GAMES dalam Kenangan Saya

Saya benci Orde Baru. Karena Orde itu telah membuat saya kerap dimarahi atau diabaikan guru saya setiap kali saya bertanya hal-hal di luar yang mereka ajarkan. Misal, saya pernah ditegur (hanya) gara-gara bertanya:

“Bu, kenapa kami harus memasang gambar Beringin? saya tidak suka warna kuning”

Guru saya diam saja dan hanya menyuruh saya untuk bergegas pulang karena jalanan sebentar lagi akan ramai oleh arak-arakan kampanye.

Tapi salah satu keuntungan besar di masa itu adalah, bagi saya, bisa menikmati SEA GAMES, ajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara, dengan cara yang jauh lebih layak dan nikmat daripada saat ini.

Dulu, saya bisa melihat aksi para pesenam ritmik yang ciamik, meliuk-liuk di atas matras. Kemudian saya akan menirunya, memotong kain perca sisa jahitan milik ibu saya, menyambungnya hingga panjang dan memasangnya di tongkat. Lalu saya pun menari, menirukan gerakan-gerakan yang saya lihat di televisi.

Atau, saya akan berteriak-teriak , saat Felix Sutanto menunjukkan kemampuan berenangnya, atau Richard Sambera mematahkan rekor atas namanya sendiri.

Seru sekali saat itu, dan jelas sekali perbedaannya dengan saat ini. Tak ada lagi gegap gempita, tak ada lagi hip-hip hura. Jangankan melihat pertandingan secara langsung, memantau perolehan medali sementara saja hanya bisa dilakukan dengan memelototi running text.

Inikah yang disebut-sebut sebagai pesta olahraga se-Asia Tenggara? Mengapa saya tak merasakan euforianya? Mengapa saya tak bisa lagi menatap haru saat merah putih dikibarkan dan Indonesia Raya disenandungkan?

Dalam pengamatan dan pencarian saya, tak ada satupun media yang benar-benar memberitakan perihal SEA GAMES. Cuplikan hasil pertandingannya pun tak ada. Apakah berita tentang ajang itu sudah sedemikian tidak bergengsi? sehingga para pemilik media tak mau mengirimkan wartawannya bahkan untuk sekadar ke Laos, yang di peta tampak dekat sekali dengan Indonesia. Atau mereka malu mengabarkan, karena hingga saat ini Indonesia masih berada di peringkat kelima?

Padahal, justru di saat-saat demikian, media, khususnya televisi, bisa memainkan perannya terutama dalam hal edukasi. Saya pribadi merasakan itu. Dari tayangan SEA GAMES itulah dulu saya mengenal gaya-gaya berenang, saya tahu siapa Lisa Rumbewas, saya paham bagaimana memainkan tenis meja dengan baik dan benar, dan tentu saja saya belajar memupuk rasa cinta dan nasionalisme pada tanah air saya.

Selain itu, media juga bisa menunjukkan pada pegiat olahraga di Indonesia fakta penting yang tidak semestinya diabaikan. Yaitu tentang parahnya regenerasi atlet di negeri ini. Bagaimana kita yang dulu terbiasa di posisi pertama, beberapa tahun terakhir terpuruk di posisi keempat atau kelima. Itupun masih dengan “memaksa” atlet-atlet yang sudah (maaf) terlalu “senior” untuk bertanding.

Tapi ternyata, logika media sekarang lain. Jujur saya kecewa. Tapi apa daya, sebagai penonton, saya adalah pihak yang paling tidak berperan dalam pembuatan keputusan dan distribusi tontonan. Tak jadi soal apakah kebutuhan saya atas informasi tak terpuaskan, yang penting mereka bisa mengabarkan bahwa Manohara kalah di pengadilan dan bisa mengklaim bahwa TV mereka yang pertama menyiarkan telepon mesra antara Antasari dan Rani Juliani. Ah, saya jadi sadar, ternyata televisi itu egois sekali.

2 Comments Add yours

  1. fernan says:

    hay, kau tak henti memberiku inspirasi. sukses ya kuliahnya !!🙂

  2. akuhayu says:

    mas Fer: duh, jadi maluw, makasih mas Fer, ayoo, terus berkarya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s