Peran Media dalam Manajemen Bencana

Dalam situasi bencana, peran media tidak hanya seputar urusan jumlah korban dan menggalang bantuan, tapi juga dalam hal manajemen bencana. Manajemen bencana adalah satu istilah kolektif yang mencakup semua aspek perencanaan untuk dan tanggapan terhadap bencana, termasuk aktivitas-aktivitas pra dan paska bencana. Istilah ini merujuk pada manajemen dari risiko-risiko dan konsekuensi-konsekuensi dari bencana-bencana.

Manajemen bencana meliputi tujuh poin yaitu pencegahan, yang dilakukan ketika tidak terjadi bencana. Lalu mitigasi bencana, kesiap-siagaan, dan peringatan dini, begitu memasuki situasi potensial bencana. Kemudian tanggap darurat, dan terakhir, setelah memasuki paska bencana, adalah rehabilitasi dan rekonstruksi.

Di level pra bencana, tugas media adalah berkontribusi dalam mengurangi kerentanan. Artinya, media bisa dijadikan sarana pendidikan bagi audiens untuk lebih mengenali dan memahami bencana. Sehingga ketika bencana datang, bukan kepanikan yang melanda (seperti kasus hujan abu yang dikabarkan sebagai awan panas) melainkan persiapan matang sehingga mengurangi kerentanan dan risiko (meminimalisir korban dan kerugian). Syukur-syukur bisa sampai melakukan langkah preventif bencana, terutama musibah-musibah yang bermula dari ulah manusia, seperti banjir, kekeringan, global warming, polusi udara, dll.

Kemudian saat terjadi bencana, peran media adalah mendukung proses terjawabnya hak asasi penduduk terkena bencana (korban selamat) bahwa mereka berhak atas bantuan dari pihak luar. Hal ini dikarenakan media adalah aktor yang berfungsi menjadikan audiens mengetahui/memaklumi keadaan (well informed).

Pada level paska, media bertugas memaksimalkan peran dalam usaha rehabilitasi dan rekonstruksi. Memacu masyarakat untuk tetap bersemangat melanjutkan hidup dan siap menghadapi bencana yang akan datang.

Di setiap level tersebut, peran media dilakukan tentu saja dengan cara menyediakan informasi. Informasi yang tidak sebatas menyampaikan peristiwa belaka tetapi lebih menonjolkan unsur ‘mengapa’ dan ‘lalu bagaimana’. Media juga harus memperhatikan prinsip-prinsip jurnalisme bencana yang meliputi; akurasi, humanis, komitmen menuju rehabilitasi dan kontrol serta advokasi.

Selama ini media cenderung berkutat pada situasi saat terjadinya bencana. Ketika bencana datang, media heboh mengabarkan. Ahli-ahli dipanggil, liputan langsung dari lapangan dilakukan, tapi ketika sudah berkurang unsur dramanya, maka media dengan mudah beralih ke isu yang lain. Padahal, justru dalam situasi paska bencana, audiens membutuhkan informasi terutama terkait dengan langkah-langkah dan upaya ke depan. Media juga cenderung mengidap narsisme, fokus pada usaha mereka untuk mengungguli media lain. Ketika satu media meliput satu kejadian, yang lain tak mau ketinggalan. Akibatnya, keberagaman isi menjadi tidak terpenuhi, karena yang berbeda hanya sudut pandang kameranya, bukan beritanya.

Padahal, pemberitaan bencana memiliki tingkat urgensi yang tinggi di Indonesia mengingat kondisi dan situasi negara ini yang memang rawan bencana. Selain itu, bencana juga merupakan ”blessing in disquise” dalam kacamata bisnis media, karena sifat informasinya yang tak pernah kering dan kandungan nilai beritanya yang tinggi. Sementara bagi masyarakat, bencana merupakan peristiwa yang sangat membekas, baik secara psikologis maupun sosial. Oleh karena itu, masyarakat selalu ingin tahu dan butuh informasi tentang berbagai hal mengenai bencana yang terjadi. Semisal mengenai penyebab, korban, kerugian, dampaknya secara luas, penanggulangan dan lain sebagainya.

Dalam pemberitaan terkait musibah, media massa juga semestinya mengedepankan konsep jurnalisme empati. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pedoman Perilaku dan Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS). Dalam pedoman itu, disebutkan bahwa lembaga penyiaran wajib menghormati hak privasi (hak atas kehidupan pribadi dan ruang pribadi) subjek dan objek berita (Pasal 19).

Media memang tidak bisa mencegah datangnya bencana, tapi bisa berkontribusi mencegah banyaknya korban dengan mengurangi kepanikan masyarakat akibat isu-isu dan rumor yang tidak bertanggung jawab, juga mendidik masyarakat agar lebih melek bencana. Jangan sampai media justru menciptakan “bencana baru” melalui pemberitaannya.

–Tulisan ini, dalam versi yang lebih singkat dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat edisi Sabtu, 27 November 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s