Pasangan dan Bahasanya Masing-masing

“Kamu, beneran kangen suamimu atau cuma gegayaan aja sih?” tanya seorang kawan pada suatu hari.

Saya menatapnya dengan tatapan heran sebelum menjawab: “Ya kangen beneran lah, masak enggak?”.

“Ya, soalnya kalau sedang bersama pun kalian lebih sering berantem kan?” tambahnya sambil tertawa geli.

Saya pun ikut tertawa.

Kawan saya itu benar. Saya dan pasangan saya memang sering sekali bertengkar. Memperdebatkan hal-hal sepele. Meributkan hal-hal yang mungkin tidak perlu dibahas.

Tapi seberapa sering pun kami bertengkar, kami lebih sering saling mencinta. Lebih sering saling mengumbar rayuan gombal dan kalimat manja. Pertengkaran, mungkin hanyalah satu dari sekian bahasa yang kami punya sebagai pasangan.

 

Saya sendiri percaya, setiap pasangan punya bahasanya masing-masing. Bahasa yang unik. Bahasa yang berlaku di antara pasangan itu.

“Dari sejak jaman pacaran juga kami sudah sering bertengkar, nyatanya menikah juga, hahaha,” tambah saya akhirnya.

 

“Ini LDR-mu yang pertama apa?” tanya kawan saya lagi.

Saya diam. Kalau dipikir-pikir, ini memang bukan LDR pertama kami. Saya dan suami saya sudah sering saling berjauhan. Pernah suatu ketika dia ke Bandung, ke Aceh, ke Medan, ke Copenhagen, ke Melbourne, ke Perth, ke Canberra, ke mana-mana tanpa saya. Pernah juga suatu masa ganti saya yang ke Semarang, ke Jakarta, ke Kuala Lumpur, ke Osaka, ke mana-mana tanpa dia. Tapi ini memang yang terlama, sekaligus yang terjauh.

Saya pun menggeleng.

“Udah sering sih, tapi kan biasanya enggak lebih dari dua bulan,” ujar saya mencari pembenaran.

 

“Kalau saling bertukar puisi galau itu apa baru-baru saja?” kawan saya kembali bertanya.

Kali ini saya tergelak. Belum tahu dia, batin saya.

“Kamu pernah denger kan, ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan itu menciptakan pasangan dari jenisnya sendiri?” saya balik bertanya.

“Iya, lalu apa hubungannya?” kawan saya tampak heran.

“Ya itulah kami. Kami itu sejenis. Jenis yang suka menggalau dan mengekspresikan perasaan lewat kata. Ada alasan mengapa kami saling memanggil Mukiyo dan Tulkijem. Kami ini tukang gombal. Entah sudah berapa puisi yang saling kami ciptakan. Waktu awal-awal kenal juga yang kami lakukan adalah saling bertukar puisi, ” jelas saya sambil tertawa.

Kawan saya manggut-manggut dan tampaknya tidak memiliki pertanyaan lagi.

Begitulah.

Bahasa saya dan Zaki Habibi adalah bahasa debat dan puisi.

Kami bukan mau sok romantis. Atau pamer kemesraan. Sungguh, itu hanyalah sebagian dari cara kami “berbicara” sebagai pasangan. Dan itulah yang membuat kami lebih kuat. Itulah yang membuat jarak Lund-Jogja terasa lebih dekat.

“Ya sudah, kamu nulis buku saja gih, biar seluruh perasaanmu terwakilkan” usul kawan saya itu.

Saya pun menjawab:

I can write a whole book but I simply don’t have the right words to express what he mean to me (Kasey Edwards)

2 Comments Add yours

  1. shanti says:

    hahaha mosok sih de…?sukaa berantem jg??berarti kangen berantemnyaa yaa…??tp begitulah..namanya jg sigaraning nyowo”garwo”…klo jauh pasti ada yg kurang…klo adem2 aja pasti krg hangat…hehehe smoga cpt menyusul….

    1. Hayu Hamemayu says:

      Hahaha, nek mung berantem amben dina dek 😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s